Saya diajari banyak hal oleh anak-anak, bahwa mencintai berati memulyakan satu sama lain, memberi cinta tanpa syarat bukan berarti mencintai apa adanya. Ciiiieeee mirip lagunya tulus “jangan cintai aku apa adanya”. Rasanya anak-anak pun demikian.
Ini kakak usianya sudah hampir 30 bulan. Tumbuh kembangnya normal tidak ada keterlambatan motorik dan bahasa. Sampai usianya 18 bulan. Saya ingat betul saat itu… saat saya mulai berhenti bekerja. Jadi saya full bersama kakak. Pada usia itu… seharusnya kakak sudah mampu melafalkan lebih banyak kata-kata. Tapi kakak hanya bisa menyebut yayah, mama, maem (makan), mimi ( minum). Tapi menurut lingkungan saya terlalu berlebihan dengan kecemasan saya. Termasuk suami dan keluarga. Dan saya sempat bertanya pada salah seorang sahabat baik saya “bunda nina”. Dan betul berdasarkan apa yang saya sampaikan pada beliau, kakak bisa jadi mengalami keterlambatan dalam berbicara. Dan beliau menyarankan untuk segera bertemu ngobrol sambil observasi kakak, agar kita bisa tahu secara pasti masalah perkembangan kakak.
Tapi lagi-lagi asumsi saya untuk bertemu bunda nina dipatahkan. Kadang secara umum apa yang terjadi pada kakak dianggap lumrah… nggak sedikit yang bilang “wes ra opo-opo mulo gurung wayae” ( sudah tidak apa-apa, memang belum saatnya). Ada banyak faktor yang membuat saya saat itu tak bisa membawa kakak sendirian,
.
Sampai akhirnya kakak berusia 24 bulan, dan kemampuan bicara kakak tidak mengalami kemajuan yang lebih berarti, yang harusnya sudah mulai mampu menggunakan 2 kata berdampingan. Tapi kakak belum banyak menggunakan hanya bisa “mimi susu” (minum susu). Saat itu juga suami baru saja tersadar dan mohon maaf kalau selama ini menganggapnya sepele. Dan memutuskan untuk mengikuti terapi. Benar saat itu kakak, mengalami gangguan bahasa ekspresif, akibatnya dia begitu pasif saat diajak berinteraksi. Dan mudah sekali tantrum yang parah.