Bukan relawan namanya jika tak merasakan perjuangan. Ini cerita tentang pertama kalinya saya berjuang dan mengerti bagaimana berjuang menjadi seorang relawan. Relawan itu identik dengan pengorbanan. Kali ini ku korbankan waktu libur untuk mencoba bagaimana rasanya menjadi relawan. Hari itu kami (saya, absor, harsono, tiyo) memutuskan untuk berkunjung disebuah daerah terpencil di Banyuwangi utara. Kabarnya, akses menuju ke desa tersebut lumayan sulit apalagi ketika musim hujan seperti saat itu. Bongkoran adalah salah satu desa terpencil yang kami kunjungi kala itu.
Mengunjungi bongkoran bukan pertama kalinya bagi ketiga teman saya ini, karena sebelumnya mereka sudah pernah mengadakan acara di sana. Tapi, bagi ku ini adalah perjalanan pertama ke Bongkoran. Sebuah desa yang bahkan baru ku kenali namanya. Pagi itu, dengan bekas hujan yang belum kering, kami putuskan untuk mulai perjalanan menuju kelokasi. Benar adanya, seperti yang dibicaran teman yang pernah kesana, aksesnya sungguh luar biasa sulitnya. Genangan air, lumpur, bebatuan seolah sengaja ditebar untuk menguji kesabaran mereka yang hendak datang. Tergelincir merupakan selingan yang kerap kami rasakan ketika melaluinya.
Belum selesai heranku dengan akses jalannya, kali ini semakin lama jalur ini ditempuh maka perkampungan tak kunjung kami temui, ini menandakan bahwa Bongkoran memang berada di “pedalaman”. Ini masih banyuwangi kan? Seolah tak percaya bahwa masih ada daerah seperti ini di Banyuwangi. Kota yang belakangan mulai bersolek mempercantik diri demi kaum yang gila travelling. Ternyata oh ternyata, kota ku hanya indah di pelatarannya saja namun memprihatinkan ketika mulai memasukinya terlalu dalam. Inilah wajah kami sesungguhnya. Kota dengan seribu festival namun juga seribu masalah yang belum sempat teruraikan. Namun, menggerutu dan hanya mengkritik pemerintahan tak lagi sesuai dengan konsep kerelawanan yang saat ini ku anut. Maka hal yang terbaik adalah bergerak dan terus bergerak bersama.