Desa, Kota bahkan hingga Kabupaten lain sangat mengenal bahwa di desa Bunder Krajan banyak seniman yang karyanya luar biasa. Akan tetapi, cukup miris, dibalik ketenaran dari kampung sebelah, desa sendiri pun tidak mengetahui bahkan untuk menggali jauh pun masih tidak tahu. Banyak emas, tetapi emas itu masih terpendam di jenis bebatuan yang paling dalam dari tanah. Sangat-sangat tidak terlihat. Seperti bangun tidur, dengan mata yang masih terkantuk-kantuk.
Bismillah, dengan tekad yang kuat, kerjasama dan berbagai dorongan positif dari beberapa seniman kami lakukan acara pameran lukisan yang bertemakan “Malam Seni Bertajuk Mimpi”, pada sabtu , 10 Februari 2018.
Dengan tujuan memberikan wadah apresiasi kepada seluruh seniman, memperkenalkan karya-karya seniman Desa yang sudah terkenal, membangun pemahaman dan kerja sama antar seniman dengan semua warga masyarakat, dan terpenting memberikan wadah edukasi untuk generasi muda untuk belajar seni.
Sabtu pagi kami bertindak, kerumah-rumah seniman mengambil beberapa karya mereka untuk dipamerkan, pinjam berbagai kebutuhan kesana-kemari kepada masyarakat sekitar, merangkul beberapa masyarakat yang mau berpartisipasi, memikirkan berbagai suguhan manis untuk beberapa tamu, dan menghubungi berbagai relasi komunitas, relasi media untuk berkunjung ke Desa kami. Jangan ditanya kami mendapatkan dana dari siapa? Benar-benar gerakan nol rupiah, hanya butuh niat, semangat, kerja sama dan terpenting Do’a kami bisa melakukan semuanya.
Apakah semulus yang kalian lihat perjalanan ini? Sama sekali tidak !! Butuh kekuatan mental dan ketabahan karena berbagai hambatan, cemohan, lecehan dan bahkan hal yang membuat saya sedih adalah kurangnya dukungan dari keluarga sendiri itulah yang saya pribadi rasakan.
Sebelum saya dan teman-teman memulai aksinya, saya dihampiri salah satu keluarga saya. Beliau berkata, “Mengapa harus melakukan ini ? tidak usah membuat perkara dengan masyarakat sini. Aku tidak mau kalau kamu di omongkan dan dilecehkan oleh masyarakat. Sudahlah kamu diam saja, fikirkan skripsimu saja. Jangan aneh-aneh!!!” Tersontak hati saya, semakin sakit dan sedih, mengapa keluarga saya sendiri membuat mental saya semakin lemah. Saya menangis, berkata “Bahwa ini harapan saya, saya ingin berjuang untuk desa saya, biarkan orang mau berkata apa, bukan sekarang saya mendapatkan balasan, tapi esok, yakinlah itu!” . Akan tetapi, beliau masih bersikukuh dengan argumennya. Saya tahu bahwa orang tua mana yang ingin anaknya tidak disukai dan dilukai orang, saya tahu persis. Tapi, saya yakinkan pada beliau, “Tolong dukung saya, jangan membuat saya menjadi lemah. Doakan saja saya bisa melalui ini semua, dan doakan tetap diberi kesehatan. Hanya itu!”.
Seperti drama, semua yang berawal dari kegelisahan, kesedihan dan ketidakyakinan berubah menjadi semangat karena terlalu banyak motivasi, semangat yang diberikan oleh orang-orang sekitar. Saya bergegas, menghampus air mata, saya ganti dengan senyuman kebangkitan. Bismillah,, yakin,,yakin dan pasti bisa !!!!

Persiapan demi persiapan, hingga malam puncak datang. Segala karya dipamerkan, demo lukis pun dilakukan dan hanya berdurasi 1 jam lukisan itu jadi dan diberikan kepada kami, sebagai wujud apresiasi, hadiah dan awal untuk maju menjadi lebih baik lagi. Di sisi itu, alhamdulillah wasyukurillah respon masyarakat cukup mendukung dan anak-anak banyak berdatangan karena bagi mereka itu adalah hal baru, yang baru pertama kali mereka lihat di desa mereka. Beberapa relasi dari berbagai komunitas mulai berdatangan, teman-teman Prasasti Singojuruh, Rumah Baca Tabassam Labanasem, dan teman-teman dari Bangsring Banyuwangi, dan tak luput dari dukungan pak RT dan Pak Kepala Dusun.
Puji syukur, yang sampai sekarang tak henti-hentinya saya merasakan betapa indahnya dan hangatnya keakraban, kebersamaan, simpati dan empati jika sudah menyatu seperti itu. Tak mengenal dari apapun mereka berada, strata, jabatan maupun profesi berkumpul menjadi sebuah keharmonisan saling menghargai. Jika saya malam itu ditanya, apa yang saya inginkan ? saya pasti menjawab, saya ingin memiliki planet sendiri yang penghuninya orang-orang seperti mereka. Lengkap rasanya, awalnya orang itu tidak bisa, menjadi bisa karena saling belajar dan berbagi, kepedulian, kesabaran, ketulusan, saling menghargai, kerjasama, kekompakan, cinta dan kasih sayang dan senyuman tulus dari dalam hati mereka. Itulah yang terpenting.

Ada niat dan usaha pasti ada hasil yang setimpal. Akan tetapi tanpa Do’a semua tidak akan pernah menjadi apa-apa. Ini bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari kami, para pemuda-pemudi penggerak desa Bunder Krajan yang ingin membangun desa kami menjadi lebih berkembang dan maju. Bismillah, nantikan info selanjutnya dari kampoeng kami, Kampoengnya para seniman J
13 Februari 2018
08.42
Siska (Relawan Rumah Baca Biru)