PERGIMU UNTUK KEMBALI In Memoriam (Molla Mauludi)


Di tengah timbunan harap akan perubahan, di tengah derasnya arus ketidak pedulian, di tengah langkanya inisiatif. Kepergian mu mendesak beku.

Walau kita tahu, Hidup akhir-akhir yang begitu sulit, namun Keangkuhannya tak sedikitpun berdaya mengubah senyummu. Tekanan perjuangan yang bertubi-tubi, namun tak sedikitpun mengubah kontribusi dan peranmu.

Badanmu yang besar itu, masih terasa kecil untuk obsesimu pada perubahan. Waktumu yang kau wakafkan 24 jam sehari untuk pengorbanan itu, masih terlalu pendek untuk cita-citamu yang tak terbatasi oleh nalar. Sahabat-sahabatmu yang tak terhitung jumlahnya itu, belum juga mampu menutup kerinduan atas kehadiranmu.

Oalah, Luka ini terlalu dalam. Kehilangan terlalu mendadak dan hitam. Hampir saja tenggelam. Untunglah tahun tahun terakhir ini, nyaris tak ada kegiatan relawan yang tanpa dirimu. Insya Allah cukup untuk membangun keyakinan bahwa kau sebenarnya dirimu “Tidak Sedang Pergi”.

Akhirnya kami tahu, Cita-citamu terlalu besar untuk dititipkan pada satu raga. Kepedulianmu juga masih belum berkurang sedikitpun walau telah terbagi ke banyak orang. Sebagian besar mimpimu masih bersama kami, menunggu untuk segera kami lunasi.

Akhirnya, qodrat hidup telah memutuskan. Kau memang dipilih untuk berjuang dari medan energi yang sepadan. Mohon maaf kami masih belum menjadi partner yang seimbang dengan besarnya mimpimu. Insya Allah sebentar lagi.

Di alam serba mungkin, bantulah kami untuk terus memelihara harapan, membisik lebih dekat kepada Yang Maha Mewujudkan. Panggillah dari sana, jiwa jiwa penuh kebaikan untuk mendampingi kami disini.

Himpunkan bagi kami pasukan, ceritakan tentang planet Hiho, kisahkan tentang orbit limurian millennial, “kesurupan”. Ceramahi mereka agar mau memohon kepada Penciptanya, mengutus mereka dalam bentuk yang baru.

Bergotong royong bersama kami, menyusun lagi kerajaan Tuhan yang sedang tertutup tabir kepalsuan. Menyingkapnya bersama, menyaksikan keindahannya di rumah besar kita, Negara mencusuar Dunia, episentrum peradaban – Indonesia

29 Juni 2021

Raden Samber Njawa,
Rumah Literasi Indonesia