Belakangan ini isu tentang literasi mulai banyak digaungkan. Tak hanya pemerintah pusat, sektor swasta dan komunitas mulai sering terlibat mendesain program untuk meningkatkan budaya membaca di masyarakat. Milyaran dana pemerintah yang digelontorkan untuk pengembangan program literasi belum cukup memberi dampak yang signifikan terhadap meningkatnya minat membaca masyarakat.
Desa mempunyai peluang besar untuk mendorong kemajuan literasi warganya, sebab anggaran Dana Desa yang jumlahnya rata-rata 1 Milyar per desa, sudah seharusnya menjadikan masyarakat punya kesempatan untuk merancang program pengembangan literasi melalui Perpustakaan Desa atau Taman Baca yang dibangun atas dasar inisiasi warga. Dengan begitu, pembanguan desa tidak hanya terkonsentrasi pada pembangunan fisik semata, tetapi yang lebih penting membangun sumber daya manusianya.

Sudah jamak terjadi, ketidakmampuan masyarakat menumbuhkan imajinasi tentang pentingnya literasi untuk membangun bangsa ini masih tumpul. Apalagi miskonsepsi tentang makna literasi masih menjamur. Warga banyak menganggap literasi hanya identik dengan mengkoleksi buku bacaan lalu memobilisasi warga agar datang ke ruang perpustakaan untuk membaca. Memang tidak salah, nemun paradigma semacam ini masih sangat sederhana sehingga upaya yang dilakukan warga dan pemerintah belum banyak menyentuh pada tujuan yang lebih besar. Padahal, aspek literasi akan berkaitan erat dengan kemajuan pembanguan negeri.
Nurul Hikmah, Project Manager Gerakan 1000 Rumah Baca di Rumah Literasi Indonesia menjelaskan, keterlibatan publik melalui rumah baca yang sudah digagas oleh warga harusnya di respon positif. Mengajak para pegiat literasi untuk merancang kegiatan yang lebih substansial agar tidak sekedar menunaikan kewajiban lewat program yang bersifat seremonial, seperti berlomba-lomba menyulap ruangan berukuran 4×6 meter untuk dijadikan perpustakaan. Lalu, pemerintah desa tak mengerti bagaimana dan siapa yang terlibat untuk mengembangkan perpustakaan menjadi sumber belajar yang menyenangkan bagi warga.
“Beberapa desa sudah memulai mengembangkan Desa Literasi dengan melibatkan komunitas atau rumah baca yang dikelola masyarakat. Namun, banyak desa yang belum memahami bahwa literasi harus menjadi rencana prioritas termasuk bagaimana model pengembangan literasi melalui kerja kolaboasi. Para pegiat literasi juga diharapkan bisa naik level, strategi pengembangan literasi tidak hanya berbasis program namun harus dikonversi menjadi gerakan”, ungkap Nurul Hikmah.
