Literasi Rendah Karena Gagal Mengkonversi Program Menjadi Gerakan

Kerja kolaborasi memang tidak bisa ditawar lagi jika ingin literasi masyarakat bisa tumbuh. Sebab, energi berupa akal pikiran yang dikelola bersama-sama dengan baik tentu akan menghasilkan gagasan-gagasan yang lebih bermutu untuk dijadikan modal mengkonversi program menjadi gerakan.

Kesadaran dan kepedulian masyarakat memang perlu dipupuk. Terutama yang menyangkut tanggungjawab publik untuk terlibat mencerdaskan warganya melalui gerakan literasi. Syaratnya, pertama, kaum mudanya produktif. Artinya, ada sebuah wadah bagi pemuda untuk berkarya sesuai dengan kebutuhannya. Kedua, warganya peduli dengan menyediakan ekosistem belajar yang baik dan yang ketiga, negara harus berpartisipasi dengan cara hadir sepenuhnya di tengah-tengah masyarakat lewat kebijakan dan anggaran. Jika satu diantara 3 elemen yang tersebut mengalami masalah, maka bisa dipastikan rencana pembangunan di desa tak akan bisa berubah menjadi gerakan.

Lebih jauh Nurul Hikmah menjelaskan, bahwa semua kebijakan yang mendukung kemajuan literasi belum cukup bisa mendongkrak tingginya minat membaca jika pemerintah belum bersinergi bersama masyarakat dan sektor swasta. Penghargaan Kabupaten Literasi yang disematkan oleh USAID Prioritas pada tahun 2017 seharunya bisa menjadi bahan refleksi, sejauh mana literasi menjadi ruh gerakan yang tumbuh di masyarakat Banyuwangi.

“Sejak 2014 kami memulai gerakan literasi dengan mengajak publik untuk berjejaring mengembangkan rumah baca sebagai sarana pendidikan non formal. Semua dilakukan dengan semangat kerelawanan. Kami berharap pemerintah lebih responsif lagi terhadap semua inisiatif yang dilakukan warga untuk membantu menyediakan sumber belajar melalui rumah baca.”, tegas Nurul Hikmah.

 

 

Scroll to Top