Aku, Kau dan Dia

Seperti melangkah dalam angan yang kosong, kuteruskan langkahku tanpa lelah
untuk dapat terus melaju disisimu. Seperti malam-malam sebelumnya kau bercerita tentang harapan dan kisah sedih yang kau lalui dalam harimu. Aku mendengarkan semua dengan seksama, iya karena itulah sebenarnya peranku sebagai pendengar setiamu.
Waktu terus melaju sampai tidak terasa telah banyak waktu yang kita lewati bersama, tapi semakin jauh rasanya semakin sulit juga kita untuk bertemu setiap waktu seperti dulu.
Suatu sore kau datang padaku ingin bercerita tentang suatu hal ungkapmu. Awalnya kau bercerita tentangku, tentang kisahku, yang beberapa kali membuatmu tersenyum penuh arti. Ah ini rasanya benar-benar mimpi melihatmu tersenyum seperti itu karenaku.
Saat senja sudah menghampiri kita, kau beranjak ke sebuah cerita dengan menggunakan kata-kata seseorang itu. Awalnya aku kira kau bercerita tentang temanmu, teman barumu yang mungkin dua atau tiga jam berkenalan denganmu.
Semakin lama bercerita semakin aku tahu arah tujuanmu semakin terasa bergetar hancur jiwaku, iya aku tau seseorang itu adalah orang yang kau sukai.
Tanpa menatapku, kau bercerita dengan nada bahagiamu, bercerita tentang bagaimana sosok seseorang itu, tentang kesukaannya, hal-hal yang membuatmu bisa terpesona dengannya. Rasanya aku ingin berteriak kencang dan menghentikanmu. Tapi apalah dayaku, aku siapa disini? Aku hanya seseorang yang kau jadikan pendengar setia.
Semakin jauh kau bercerita semakin banyak pula air mata ini terjatuh tanpa kau menyadarinya. Apakah bercerita tentangnya menurutmu sangat indah? Hingga kau lupa disini ada seseorang yang sangat menyayangimu, seseorang yang selama ini menjagamu mati-matian, seseorang yang berusaha selalu ada bahkan memberikan perhatian, tanpa pernah mengharapkan sebuah balasan.
Saat senja berganti menjadi malam, kau mulai kehabisan kata. Dan kata terakhir yang aku dengar darimu walaupun samar adalah sebagai sahabat, maukah kau menjadi seseorang yang mendukungku? Atau malah kau ingin menjadi penggangguku?
Aku sedikit terperanjat mendengar itu, kau kembali berkata aku tau sedari tapi kau menangis saat aku bercerita tentang seseorang itu. Karena itu aku menjadi tahu jika perasaanmu masih lebih dari sahabat padaku. Ayolah mengerti aku, semuanya tentang kita sudah berakhir dan saat ini kita hanya sebatas sahabatku saja. Tolong dukung aku dalam mencintainya jika kau tidak ingin aku anggap sebagai musuh yang selalu menghalangiku.
Entah ini kau atau bukan, mengapa kau menjadi sosok jahat yang membuat hatiku terluka sangat dalam.
Bahkan kau tak lagi menatapku, menatap perasaan yang sebenarnya semakin hari semakin besar untukmu. Aku masih terdiam menatap langit yang semakin larut menjadi gelap, aku tahu kau masih disini karena menunggu jawabku. Tapi apa yang akan aku jawab? Apakah aku harus menjawab sesuai isi hatiku, jika aku tak rela kau bersama dengan seseorang itu? Itu berarti aku harus rela kau memusuhiku. Atau aku harus menjawab dengan membohongi perasaanku ini? Berkata jika aku mendukungmu, aku ikut bahagia jika kau bisa bersama dengan seseorang itu, agar akau bisa menjadi seseorang yang ada untukmu walaupun sebatas sahabat?
Entah ini sudah tetesan keberapa aku masih terus saja berpikir keras untuk menemukan sebuah jawaban yang terbaik untuk kau dan aku. Satu jawaban yang masih aku pertimbangkan, apakah aku harus pergi? Jika dengan pergi aku bisa menghindari semua pertanyaan sulit itu, mengapa aku tidak melakukanya?
Aku beranjak dari kursi yang sedari sore tadi menjadi saksi bisu antara aku dan perasaanku yang hancur. Dengan hati yang sudah hancur lebur aku berusaha berlari menjauhimu ataupun meninggalkanmu, walaupun hakikat sebenarnya aku tak dapat benar-benar berlari dari keadaan rumit ini.

 

Oleh shifas

Comments

comments

Close Menu