Bukan tanpa alasan pemilik nama asli Jasmin Laticia itu hidup di jalanan yang sangat keras. Kedua orang tuanya berpisah, apalagi ayahnya tinggal di Belanda. Jeje mengaku memilih kabur dari rumah karena menerima tindakan pelecehan dari salah satu pekerja di rumahnya. Jeje saat itu tinggal bersama neneknya.
Terlepas dari segala kontroversi soal Jeje, saya ingin melihat satu hal yang hebat dimiliki oleh perempuan yang wajahnya mirip dengan artis Fujianti Utami Putri atau yang dikenal dengan sapaan Fuji. Bukan soal viralnya, tapi tentang coping stress dan daya juangnya untuk bisa bertahan hidup.
Sekarang bayangkan saja atau saya tantang anada semua yang sudah berkeluarga, jika kita punya anak, lalu kabur dan dibiarkan hidup di jalanan. Yakin bisa bertahan seperti Jeje? Yang ada, baru sehari di trotoar ujung-ujungnya masuk angin alias “greges”.
Saat kabur dari rumah, Jeje pernah merasakan tidur di kolong rel Stasiun Tanah Abang, sampai akhirnya dia bertemu dengan teman bernama Ani yang tinggal di Jakarta Barat. Bersama Ani, Jeje tinggal di rumahnya dan akhirnya punya pergaulan di Sudirman.
Disisi lain ada banyak anak-anak yang masalahnya tak seberat Jeje justru mengalami depresi bahkan harus mengakhiri hidupnya. Beberapa hari yang lalu, kita mendengar siswi SMP bunuh diri karena depresi dengan terjun ke sungai Bengawan Solo dari atas jembatan.
Ada juga, siswi SMA di Kabupaten Gowa memilih bunuh diri akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya dimana korban sering mengeluh kepada rekan-rekan sekolahnya atas sulitnya akses internet di kediamannya yang menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk.
Kembali belajar dari Farel dan Jeje, saya pribadi tentu juga tak sepakat dengan popularitas semu. Apalagi di usia anak yang sudah mulai bergelut di dunia indusrti seperti Farel. Saat ini Farel bergabung di salah satu label musik di Banyuwangi dan lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu orang dewasa.
Begitu juga Jeje, yang bisa terkenal karena ia hidup di era generasi internet yang latah. Kadang popularitas memang bisa berpengaruh pada kredibilitas seseorang. Meski tak jarang kredibilitas itu, terkadang hanyalah sekedar kredibilitas semu. Artinya, seseorang yang tadinya hanya punya kemampuan dan skil biasa-biasa saja, namun karena ia lebih populer, maka bisa saja dianggap kemudian lebih kompeten ketimbang yang lain yang lebih punya kemampuan.
Kini saatnya kita perlu berjeda sejenak untuk kembali mengingat tentang pentingnya tujuan dalam pendidikan. Dengan ini kita semua akan sadar pentingnya ekosistem pendidikan yang kolaboratif, antara sekolah, keluarga dan komunitas.
Agar lahir generasi yang merdeka, yaitu mampu menilai pencapaian dan kemajuannya, mandiri dalam mengatur prioritas belajarnya, dan dapat menentukan cara-cara yang sesuai untuk belajar secara adaptif. Baik dilakukan di sekolah formal maupun non formal.
Ki Hajar Dewantara telah memberi teladan, ia memerdekakan anaknya saat belajar apapun, berdasarkan bakat mereka. Bekal itulah yang harus dibawa anak Indonesia untuk berdaulat atas dirinya sendiri.
Pada akhrinya, Kita perlu sadar bahwa tujuan pendidikan yakni menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, seorang pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak agar dapat memperbaiki diri. Secara sederhana bahwa tugas seorang pendidik adalah menggali, menuntun, serta mengembangkan bakat dan minat siswa, bukan merubah apa yang siswa minati.
Salam Merdeka Belajar !!!
Tunggul Harwanto
(Founder & CEO Rumah Literasi Indonesia)