
Suyanto, Kepala Sekolah SDN 4 Kebonrejo menyambut baik program ISL ini. Menurutnya, sebagai mitra di program ISL ini, warga sekolah punya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan kegiatan literasi melalui perpustakaan.
“Perpustakaan dapat meningkatkan minat baca siswa jika menyediakan koleksi buku yang menarik dan relevan dengan minat para siswa. Sehingga hadirnya sumber belajar yang berkualitas akan menunjang siswa dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbagai aspek kehidupan.”, tegas Suyanto.
Sejak 2014 program ini dijalankan, sudah ada puluhan sekolah yang menjadi target dan menerima manfaat dari kegiatan ini. Warga sekitar juga bisa terlibat dalam kerja barengan ini agar impact yang dihasilkan lebih luas.

Melalui kegiatan ISL ini, Tunggul Harwanto selaku Founder Rumah Literasi Indonesia berharap agar lebih banyak lagi pihak-pihak yang terlibat untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T. Termasuk mendorong komunitas lokal, pemerintah desa dan privat sektor bisa iktu terlibat dalam menyiapkan ekosistem belajar yang inklusif.
“Kerja kolaborasi menjadi kunci agar banyak pihak bisa ikut mengambil tanggungjawab menyiapkan ruang belajar yang ramah dan nyaman untuk anak-anak di pelosok desa. Kami percaya aksi kecil ini akan menjadi nyala yang menstimulus semangat belajar baik bagi guru maupun bagi siswa termasuk juga orangtua”, ungkap Tunggul.
Program ISL yang berbasis kerelawanan ini akan terus digelar 2 kali dalam setahun. Dengan semangat kerelawanan, Rumah Literasi Indonesia menyakini dapat menumbuhkan gerakan literasi yang kuat dan berkelanjutan, membawa perubahan positif bagi masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup melalui kekuatan literasi.