KARNAVAL, HAUS TONTONAN KRISIS TUNTUNAN

Perayaan 78 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia disambut gegap gempita mulai dari warga perkotaan hingga warga pinggiran kampung. Beragam kegiatan menarik digelar untuk mengenang kembali nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang berhasil mempertahankan kedaulatan bangsa.

Sayangnya, tahun ini kita melihat perayaan di berbagai tempat justru terkesan keluar substansi dan spirit kemerdekaan. Misal, yang paling nyata kita lihat hari ini, event karnaval yang di gelar di desa-desa lebih didominasi dengan atraksi “Goyang Pargoy”. Tumpukan sound system yang diangkut oleh mobil pick-up maupun truk dengan kapasitas besar memainkan lagu-lagu House Music yang liriknya kadang tak ada relevansinya dengan tema kemerdekaan.

Pamer lekukan tubuh perempuan yang asyik berjoget sepanjang jalan, semacam jadi air di tengah padang pasir yang tandus, yang mana sebagian besar warga terlihat sangat menikmati karena haus akan tontontan dan hiburan. Yang lebih parah lagi, ada seorang pria menggunakan pakaian wanita lalu memamerkan aurat perempuan sambil berlenggak-lenggok bak artis Bolywood. Gayanya cengangas-cengenges sambil melemparkan senyum ke setiap warga yang memberikan reaksi. Faktanya, justru banyak emak-emak mengapresiasi dan mengajak foto selfi.

Kita perlu tahu, bahwa menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender adalah bentuk kekerasan seksual. Hal inilah kadang yang belum banyak disadari oleh masyarakat Banyuwangi hari ini.

Scroll to Top