Oleh : Mohammad Hasyim
Menempatkan pendidikan sebagai sektor paling penting dalam proses pembangunan suatu daerah adalah kaharusan yang tak lagi bisa ditawar. Sejauh kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan, tentu tidak bisa dihindarkan dari munculnya persoalan, pun juga yang terjadi di Banyuwangi.
Paling tidak ada dua permasalahan yang selalu mebelit penyelenggaraan pendidikan dimanapun, juga di Banyuwangi :
Pertama, masalah Filosofis.
Adalah bagaimana membangun kesadaran pada setiap diri pebelajar (peserta didik), bahwa ihtiar mebebaskan seseorang dari berbagai keterbatasan hidup, hanya bisa dipenuhi salah satunya apabila seseorang memiliki tingkat capaian pendidikan yang memadai. Capaian pendidikan oleh seseorang juga berdampak secara bermakna atas kontribusinya dalam proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di masa yang akan datang. Dengan pendidikan, seseorang akan bisa lebih mengaktualisasikan diri pada berbagai aspek kehidupan.
Tercipatnaya kesadaran diri (self relience) pada pebelajar juga ditandai dengan tumbuhnya pemahaman bahwa capaian kualitas hidup adalah sesuatu yang harus diusahakan, bukan hadiah yang turun dari langit. Pemahaman ini sekaligus mendorong betapa pentingnya pebelajar menyadari bahwa masa depan adalah sebuah wilayah yang tidak bisa disamakan dengan wilayah yang kini dihadapi dan/atau ditinggali oleh orangtua, juga guru-guru mereka. Dunia hari ini adalah area yang telah mengalami globalisasi dengan beragam tantangan, persoalan sekaligus peluang.
Untuk bisa menumbuhkan kesadaran dimaksud sekaligus menundukan tantangan masa depan, maka pentingnya pebelajar memiliki paling tidak empat kompetensi sekaligus, masing-masing : 1). knowing much, 2). doing much, 3). being exelences, dan 4). being morallity.
Paradigma pembelajaran harus juga disesuaikan dengan tuntutan yang telah berubah tadi. Pola-pola pembelajaran konvensional- yang lebih kuat ke dominasi peran guru sebagai pengalih pengetahuna, ke transformasi pemberdayaan dan penyadaran diri pebelajar. Dari penghimpun pengetahuan, ke pengembangan potenti dan memaknai kehidupan. Karena itu model-model pembelajaran berbasis scientific tentu sangat direkomendasi. Dengan model seperti ini maka peran guru lebih ke fasilitasi dan inisiasi pembelajaran, sekaligus penyemai dan perawat tumbuhnya benih-benih peradaban. Pun model-model pembelajaran berbasis game yang menyenangkan – terutama di SD – patut dilakukan, sehingga anak-anak merasa selalu at home (kerasan belajar di sekolah). Dalam kontek pendidikan di banyuwangi proses-proses seperti ini ke depan harus lebih diperkuat lagi. Musti di ingat bahwa capaian-capaian akademik-kwantitatif tidak selamanya sebanding lurus dengan kebutuhan dan capaian-capaian hidup seseorang di masyarakat.
Kedua, permasalahan tehnis.