Oleh : Tunggul Harwanto
Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita-cita luhur negara Indonesia yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Proses mencerdaskan kehidupan bangsa tentu harus dimulai dari pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman yang penuh pembaruan melalui sebuah pendidikan.
Salah satu hal penting untuk meningkatan kualitas manusia sebuah bangsa adalah tentang budaya literasi. Menurut Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD, Indonesia menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki tingkat literasi rendah di tahun 2019, di peringkat 62 dari 70 negara.

Di Jawa Timur misalnya, indeks rangking minat baca menempati urutan ke 26 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk meningkatkan minat baca masyarakat dengan mempermudah akses fasilitas membaca melalui perpustakaan dan taman baca termasuk ketersediaan buku yang mudah dan murah dijangkau oleh masyarakat luas.
Belum lagi situasi pandemi Covid-19 yang membuat proses membelajaran semakin terbatas, karena banyak sekolah-sekolah yang ditutup. Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil tanpa akses internet dan buku juga mengalami kesulitan dalam meningkatkan literasi membaca.
Berawal Dari Sebuah Kegelisahan, Ide Tentang Berkontrobusi Lahir
Melihat situasi tersebut, Yayasan Rumah Literasi Indonesia yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro – Banyuwangi, sebuah organisasi nonprofit mengambil inisiatif yang fokus pada upaya pengembangan dan inovasi gerakan literasi berbasis rumah baca/taman baca masyarakat terus melakukan upaya kreatif untuk menumbuhkan semangat membaca hingga ke pelosok-pelosok desa.

Salah satu program yang diakselerasi pasca pandemi adalah “Desa Literasi”. Yaitu, sebuah upaya kolaborasi beberapa komponen yang ada pada masyarakat desa, bersinergi dan bergerak bersama dalam hal mengembangkan minat/budaya baca, meningkatkan wawasan serta menstimulasi berbagai kreatifitas dan inovasi masyarakat dalam pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pedesaan. Dimana keseluruhan kegiatan tersebut didesain dan diarahkan agar masyarakat bisa berperan aktif dalam pembangunan di lingkungannya.
Kolaborasi dilakukan dengan mendirikan, mengelola dan menjadikan rumah baca/taman baca sebagai katalisator, penghubung atau media bagi keluarga, sekolah dan masyarakat (publik) untuk terlibat dalam kegiatan kegiatan pembelajaran yang bersifat pendidikan alternatif sebagai pengembangan apa yang sudah diberikan di sekolah formal.
Rumah Baca Sebagai Ruang Merawat Cita Anak-Anak dan Orangtua
Melalui rumah baca, masyarakat bisa dengan mudah mengakses berbagai sumber belajar termasuk sebagai ruang mengasah pengetahuan dan keterampilan warga di berbagai aspek kehidupan. Terdapat lebih dari 50 rumah baca yang menjadi anggota jejaring Rumah Literasi Indonesia yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Dimana, saat masa pandemi, rumah baca menjadi salah satu pilihan alternatif bagi anak-anak dan orangtua dalam proses belajar selama sekolah ditutup akibat pandemi.
Melalui rumah baca, anak-anak bisa mendapatkan informasi melalui buku-buku yang tersedia. Didampingi para relawan, beragam sumber belajar berbasis kearifan lokal menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan budaya belajar anak-anak di kampung. Misal, selain buku anak-anak juga bisa mengikuti kelas tematik, muali dari permainan tradisional, kelas music, kelas berkebun, kelas pecinta alam, kelas memasak, kelas bakat dan lain sebagainya. Untuk orangtua, mereka mendapat kesempatan ikut di berbagai program kegiatan yang fokusnya berkaitan dengan pengasuhan keluarga dan kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya di sektor ekonomi.

Salah satunya, Rumah Literasi Indonesa menjalankan program “Sekolah Pengasuhan Berbasis Komunitas”, salah satu komponen dari program “Desa Literasi” yang fokus terhadap pendidikan bagi orangtua terkait dengan pengembangan berbagai praktik baik pengasuhan keluarga serta upaya menciptakan sumber penghidupan baru melalui inisiasi usaha kecil menengah bagi kelompok orangtua yang terdampak Covid-19.
Melalui Sekolah Pengasuhan, orangtua memiliki ruang berdiskusi secara berkelanjutan untuk menemukan cara mengatasi tantangan pendidikan di dalam keluarga dan ekosistem yang lebih luas, baik di sekolah maupun di lingkungan. Sektor ekonomi juga menjadi salah satu prioritas program, dimana saat ini orangtua tela memiliki berbagai unit usaha kecil yang dikelola secara berkelompok. Mulai dari usaha kuliner, paket wisata pendidikan serta usaha kerajinan.
Kontribusi JNE Dalam Mendekatkan Akses, Penguhubung dan Penggerak Sektor Ekonomi