”Main egrang ini nggak cuma butuh keterampilan tapi juga keberanian. Kalau kita ragu-ragu pas melangkah, ya kita bisa jatuh. Kalau pas langkah pertama aja udah takut jatuh, ya gimana langkah berikutnya”, pungkas Nurul HIkmah, perempuan yang juga mengelola lembaga PAUD.

Selain belajar filosofi hidup yang lumayan dalam, permainan egrang juga ngajarin kita nilai-nilai positif lainnya. Seperti keuletan, hard work that pays off, dan sportivitas. Pertama ulet. Apalagi untuk mereka yang baru menjajal berjalan di atas tongkat bambu ini. Termasuk tak hanya memainkan, untuk mebmbuat sepasang egrang juga dibutuhkan keuletan, karena tidak sekedar nyatuin bambu. Pembuatan egrang ini butuh ketekunan agar egrangnya seimbang dan kokoh saat dipakai berjalan.
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang diantaranya kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan diri sendiri untuk bisa menjaga keseimbangan berjalan di atas bambu. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin saat egrang digunakan untuk kompetisi, tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
“Sudah saatnya rumah baca mulai menggunakan permainan tradisional untuk bisa mengajarkan pendidikan karakter anak-anak. Di zaman gadget ini, sebagai pengelola atau relawan kita harus mulai mengalihkan budaya permainan game digital ke permainan tradisonal. Bukan berate melarang, tapi ada waktu yang proporsional dalam menggunakan gadget”, Jelas Nurul HIkmah