PINTU KEMERDEKAAN BELAJAR ADALAH KESADARAN

PINTU KEMERDEKAAN BELAJAR ADALAH KESADARAN

 

Kedatangan tim Rumah Literasi Banyuwangi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum untuk berbagi ilmu tentang gerakan literasi bukan kali pertama. Sebelumnya relawan muda yang konsen di bidang seni sudah sering kali membagikan pengalamannya kepada adik-adik siswa MTS melalui Program LiterArt yang diinisiasi oleh Komunitas Negri Dongeng. Sebuah modul pembelajaran yang bertujuan untuk mengenali dan menggali potensi anak melalui hobi dan seni, termasuk dalam rangka mendukung pendidikan karakter anak.

Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Disinilah kita sebagai pendidik harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. Diperlukan waktu yang cukup serta kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik.

Kali ini, relawan pengajar dari Rumah Literasi Banyuwangi mencoba mengajak adik-adik pondok pesantren belajar tentang “Menulis Puisi”. Mengawali kegiatan belajar adik-adik diajak untuk bernyanyi dan senam otak agar suasana menjadi lebih cair. Antusias dan keceriaan begitu tampak ketika mengawali proses belajar, kami bertanya tentang lagu favorit yang setiap hari didengarkan. Masing-masing dari mereka bercerita tentang judul lagu kesukaan dan mereka juga menjelaskan apa alasan kuat menyukai lagu tersebut. Ada beragam jenis lagu yang disukai, mulai dari lagu dangdut, pop, lagu india serta lagu khas Banyuwangi. Mereka juga diminta untuk menjelaskan tentang makna lagu dan berbagai informasi tentang manfaat lagu. Mereka bercerita dengan penuh semangat dan menjelaskan dengan detail berbagai macam manfaat, seperti halnya untuk kritik sosial, untuk terapi kesehatan, untuk hiburan dan bahkan hanya sekedar mengisi waktu luang.

Materi selanjutnya, mereka diajak bermain ”Conecting Words”. Mereka dibagi menjadi 2 kelompok. Kemudian diberi tugas untuk mencari dan mendiskusikan satu kata yang menjadi kesepakatan kelompok. Lalu, dari kata yang sudah dipilih setiap anggota meyumbangkan kata sebanyak mungkin yang berkaitan dengan satu kata diawal yang sudah dipilih dan disepakati. Dalam waktu 5 menit mereka dengan cepat menulis kata-kata yang memiliki hubungan dengan satu kata yang sudah pilih. Kedua kelompok tersebut berusaha menemukan sebanyak-banyaknya, kelompok yang paling banyak menemukan kata akan mendapat apresiasi oleh semua peserta. Melaui permainin ini, kita dapat melihat sejauh mana kemampuan literasinya untuk bisa menganalisa keterkaitan satu kata dengan kata lainnya, termasuk mengasah kreatifitas anak agar berani menggunakan cakrawala pikir yang luas serta tak terbatas. Karena pada permain ini, salah satu pesan yang dapat dipelajari adalah setiap kata pasti akan berhubungan satu dengan lainnya. Jadi peserta bebas menuliskan kata apa saja yang muncul dibenak lalu dituangkan melalui tulisan kemudian di buat sendiri hubungan kata tersebut.

Di sesi selanjutnya, relawan mengajak adik-adik untuk belajar bersama membuat puisi bebas . Namun sebelumnya, adik-adik dari pondok pesantren dibekali pengertian puisi, ciri-ciri dan jenis termasuk dengan mengenalkan karya sastra dari penulis-penulis terkenal di dunia sampai mengenalkan tokoh-tokoh penulis nasional yang sudah banyak menghiasi perjalanan sastra di nusantara.

Praktik belajar yang kami gunakan adalah metode guru merdeka belajar. Prinsip guru merdeka belajar adalah guru tidak lupa mengajak muridnya mengetahui tujuan mereka belajar dan refleksi setelah belajar. Pada pembuatan puisi bebas, hal pertama yang dilakukan pendidik kepada adik-adik Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah dengan merusmuskan strategi yang bisa membantu jalannya penulisan. mereka distimulus membuat puisi dengan memperhatikan tujuan, kriteria penilaian dan strategi konferensi tulisan dengan rekan sebaya.

Kriteria yang disepakati dalam penulisan puisi untuk pemula adalah pesan, tema dan diksi atau pilihan katanya. Dari ketiga kriteria tersebut, mereka memulai membuat puisi.  Sebagian besar dari mereka yang hadir menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan yang bernama puisi dalam waktu 15 menit. Lalu langkah selanjutnya mereka diajak untuk menilai puisi rekan sebayanya. Dibagian akhir pembelajaran mereka membacakan puisi hasil karya masing-masing. Mereka begitu antusias menyimak dan mendengarkan puisi yang telah ditulis kemudian dibantu sentuhan aransement music pengiring sesuai dengaan tema dan pesan masing-masing karya mereka.

Metode belajar yang melibatkan seperti ini benar-benar membuat adik-adik Pondok Pesantren Miftahul Ulum bersemangat, terbukti dari 2 x 60 menit waktu belajar mereka masih merasa belum cukup dan masih penasaran untuk membuat puisi kembali. Padahal ketika mengawali proses belajar adik-adik merasa tidak tertarik dengan tema belajar menulis puisi, tetapi dengan melibatkan serta memberikan contoh karya puisi yang inspiratif pada akhirnya mereka begitu antusias dan percaya diri dalam menulis.  Untuk itu relawan pengajar memberikan ruang untuk terus berkarya melalui tulisan bagi mereka yang sudah mulai mencintai karya puisi. Melalui media sosial yang dikelola Rumah Literasi Banyuwangi, adik-adik bisa mengirmkan tulisannya dan rencana akan dijadikan buku hasil karya bersama.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Close Menu