Tersesat di Jalan Kerelawanan

Apa itu Rumah Literasi Banyuwangi? Literasi? Bahasa apa itu? Mungkin inilah yang selalu ada dalam benakku ketika awal mengenal Rumah Literasi Banyuwangi (RLB). Menginisiasi rumah baca. Berdiskusi dengan para relawannya seolah kau sedang belajar dari sang guru kehidupan. Iya, kadang mereka mendiskusikan sesuatu yang tak pernah terpikirkan bahkan ketika berada di bangku sekolah. Mereka ini sebenarnya siapa? Dengan perkembangan semacam ini, justru mereka melakukan hal-hal yang mungkin sepele dimata kebanyakan orang. Justru ini yang menjadi daya tarik mereka.

Sesuatu yang selalu saya tanyakan dalam hati adalah apakah mereka yang aktif di RLB ini sudah pensiun memikirkan kehidupan pribadinya? Sehingga setiap hari mereka hanya memikirkan dan mementingkan orang lain disekitarnya? Era kompetisi seperti saat ini, seharusnya mereka sibuk dengan kerja dan membangun masa depannya sendiri. Tanpa harus sibuk mengurus rumah baca yang tak jelas ini. Semakin lama, jawaban demi jawaban dari pertanyaan awal saya itu terjawab. Ternyata, pola pikirku yang kembali keliru. Ini tentang definisi kesuksesan mereka. Sukses menurut mereka yang di RLB adalah bahagia bersama-sama. pelajaran yang saya petik adalah sukses itu bukan hanya tentang materi, punya rumah, punya mobil, punya uang, punya kedudukan. Sukses yang sebenarnya adalah ketika bahagia bersama orang-orang sekeliling kita. Berbagi ilmu, berbagi kebahagiaan, cerita, pengalaman dan apapun yang bisa kau berikan tidak hanya uang. Ya, uang memang segalanya, namun segalanya tak butuh uang. Gerakan Rp 0 adalah gerakan yang mendasari RLB. Gerakan-gerakan semacam inilah yang belakangan saya fahami merupakan gerakan kerelawanan. Nilai-nilai keikhlasan sangat dikedepankan.

Menjadi relawan bukan hanya tentang mengorbankan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain. Namun, menjadi relawan adalah sebuah pilihan hidup. Pilihan hidup untuk mendedikasikan diri ini untuk kebahagiaan bersama. Karena saya masih percaya kalau bahagia sendirian itu hambar, tak berasa. Menjadi relawan adalah panggilan jiwa. Jiwa yang selama ini apatis. Jiwa yang angkuh dan maunya menang sendiri, jiwa yang berkompetisi, dimana berusaha untuk menang ketika yang lain dapat dikalahkan. Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Kira-kira seperti itu ketika panggilan jiwa itu belum datang.

Beruntung bertemu mereka, alien Hiho. Hiho merupakan planet imajiner bagi kami yang tergabung dalam RLB. Ini gila. Planet hiho merupakan planet dimana kebahagiaan selalu mewarnai hari-hari disana. Tak ada buang sampah sembarangan, budaya membaca sangat baik, taat peraturan dan kebaikan lainnya. Kemudian dengan misi antariksanya, para agen Hiho ini tersebar kebumi untuk mengajak penghuninya bahagia bersama. Mungkin kamu juga agen Hiho yang belum kami temukan. Maka bersiaplah bahagia bersama kami semua.

Relawan merupakan kumpulan dari berbagai profesi, jadi sebenarnya berdiskusi dengan mereka semua merupakan pembelajaran yang tak ada habisnya. Karena setiap diri merupakan guru bagi yang lainnya. Berbicara dengan mereka hampir tak pernah bahkan urat-urat dikepala meregang. Ngobrol ngalor ngidul tentang bagaimana potensi Indonesia merupakan salah satu cara kami mencintai negeri ini. Mencintai dengan beraksi dari hal terkecil. Mungkin jika kalian tidak percaya, bolehlah dicoba ngobrol dengan mereka para relawan RLB. Dijamin, asik dan makin menarik. Asal jangan bahas jodoh. Hehe mereka agak sensitif tentang yang satu itu.

Perbedaan diantara kami, para relawan, hampir tak ada. Usia, pengalaman, ilmu dan segalanya tak jadi penghalang bagi kami untuk bertukar ide brilian. Jalan kerelawanan merupakan jalan pintas bagi siapa saja yang ingin belajar dan mendapat banyak ilmu. Tak lagi kau harus menunggu 145 SKS selesai untuk dapat berdiskusi dengan mereka yang luar biasa. Berada disekitar mereka seakan kehangatan dari semangatnya tersampaikan dan seolah panasnya tersalurkan kesemua yang ada disekitarnya. Yang membuat mereka istimewa adalah mereka tak butuh pengakuan seperti kebanyakan orang. Mereka tak butuh posisi atau jadi sorotan kamera. Perkara ada kamera yang menyorot, hmmm ya apa boleh buat, karena yang butuh pengakuan akan berbeda ketika didepan kamera dengan mereka yang murni karena kesadaran. Show up perlu tapi terlena jangan.

Semakin hari, saya menikmati peran ini. Peran mejadi relawan. Karena ini adalah pilihan. Relawan dimataku, Relawan itu tanggap ketika ada yang terperangkap (baca:buta pengetahuan), relawan itu bangga ketika semua tersenyum bahagia, relawan itu bangkit ketika semua mulai tak optimis, relawan itu bersatu ketika yang lain mulai bilang “inilah aku”. Relawan itu sadar ketika dirinya bukan manusia super, sadar dirinya bukan makhluk ajaib yang merubah dunia. Karena kesadarannya makanya mereka seneng banget bersama-sama, bersatu, berkumpul jadi satu (baca: jomblo terselubung). Hahhaha Masih tak percaya kalau mereka seneng bareng-bareng? Okelah, lihat setiap acara mereka, Literasik, Bookbooster, ecoliteracy, goes to school, dan lain-lain. Ini salah satu bukti bahwa mereka tak dapat dipisahkan. Bukan tanpa alasan. Karena kekuatan terbesar menjadi relawan adalah kekuatan bersatunya.