10 Desa Di Jawa Timur Gagas Bank Sampah Terintegrasi Ala Kampoeng Recycle

“Menumbuhkan kesadaran sejak dini dalam mengelola sampah adalah hal paling penting. Karena perilaku manusia bisa berubah jika wawasannya bertambah. Lewat 3 pilar Kampoeng Recycle kami melibatkan sektor pemerintah, sekolah, pesantren, LSM, lembaga pemberdayaan desa, rumah baca serta komunitas kreatif agar bisa mendukung Bank Sampah Terintegrasi ini” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Mira.

Inisiasi yang dilakukan 10 Desa ini diawali dengan kegiatan Sosialisasi dan Focus Discussion Group (FGD) pada tanggal 14 – 15 Agustus 2019. Melalui kegiatan ini, masing-masing desa diajak untuk memetakan potensi lokal yang ada sebagai Support System termasuk merancang Road Map selama 5 Tahun kedepan.

Fasilitator dalam kegiatan FGD ini melibatkan pembicara dari Rumah Literasi Indonesia, PT. Pandu Sata, Kampoeng Recycle dan Bank Sampah Sahabat Ibu. Dan Peserta masing-masing desa sebanyak 10 orang dari berbagai elemen.

Baidowi, peserta FGD yang juga menjadi salah satu pegurus Bank Sampah di Desa Wonosuko mengapresiasi kegiatan yang bisa mewadahi warga desa agar lebih memahami lebih jauh tentang konsep pengelolaan sampah di lingkungan sekitar. Ia merasa, kerja kolaborasi menjadi kunci penting untuk memastikan lingkungan bersih dan sehat, tidak hanya fisik tetapi juga berkaitan dengan mental.

“Adanya rumah baca sebagai salah satu konten dari Kampoeng Recycle menjadi solusi terbaik agar masyarakat punya kesempatan belajar secara berkesinambungan. Sebab, di rumah baca, saya melihat semua orang bisa terlibat untuk menciptakan ekosistem belajar yang positif” ungkap Baidowi.

 

 

Scroll to Top