Literasi Sebagai Solusi Melawan HOAX, Jawaban atau Wacana?

Hoax sebagai akar fenomena sosial yang menghancurkan persatuan masyarakat dan literasi sebagai solusi dasar untuk mengatasinya adalah diskursus yang selalu di sandingkan dalam setiap kali diskusi baik di level atas maupun di level bawah .

Lambat laun diskursus ini pun membuat pemikiran seragam cari atas ke bawah maupun sebaliknya jika hoax yang menjadi masalah harus di selesaikan lewat literasi sebagai primus interperas ( yang paling utama ) disamping solusi yang bersifat birokratis sebagai the second ( yang kedua ).

Namun sayangnya literasi kita masih terjebak pada masalah di dua ranah yang pertama ranah konseptual dan kedua ranah praktikal dari ranah konseptual , konsep literasi masih didefinisikan dan kemudian dimaknai hanya sebatas persoalan bisa baca lalu selesai dan akibatnya kemudian di ranah praktiknya literasi menjadi hanya soal meningkatkan berapa jumlah buku yang di baca oleh individu dalam sebulan.

Populisme gerakan , formalitas program ,dan ketidakhubungan antara visi dan misi kedepannya adalah 3 fenomena yang sering saya jumpai terjadi akibat kesalahan diranah konseptual dan praktik ini .

Akibatnya jawaban literasi sebagai solusi hoax akhirnya gugur dengan sendirinya , karena literasi yang ada saat ini tidak berdaya sebagai kekuatan penyeimbang hoax yang masif ,sistematis , dan manipulatif.

Tentunya kemudian muncul pertanyaan kritis literasi yang seperti apa yang harusnya di bentuk ? Strategi yang seperti apa yang harusnya di laksanakan ? Dan logika gerakan seperti apa yang harus di terapkan ? .

Membongkar konsep usang literasi

Benak publik menanggap literasi sebagai solusi untuk menghadapi hoax karena literasi berurusan dengan perbaikan akal, hoax di pandang sebagai bentuk ketidakwarasan akal dalam hal menggunakan medium – medium informasi .

Namun literasi juga perlu dikaji apakah literasi saat ini sudah efektif memperbaiki akal atau justru menumpulkan akal ?

Literasi pada dasarnya bukan soal kuantitas kemampuan membaca buku , banyaknya menulis , atau banyaknya informasi yang kita tumpuk di kepala yang selama ini kita praktikan . Jika literasi hanya soal bacaan fisik tentunya akan tertatih dalam melawan hoax yang masif, sistematis, dan manipulatif.

Sudah selayaknya kita harus memahami literasi sebagai sebuah proses berkelanjutan untuk menajamkan pikiran baik secara kolektif maupun individu , memperbaiki sikap dan tindakan , dan menyeimbangkan kesadaran individual dan kesadaran sosial lewat berbagai medium fisiologis baik kinestetik , visual , audiotory. Dengan indikator nya yang harus mentransformasi individu dan masyarakat di ranah etos ( karakter ) ,mitos dari berpikir irrasional menjadi rasional , dan logos dari keseragaman menjadi keberagaman yang saling membangun dengan berpedoman pada wawasan nasional suatu bangsa yang mecakup visi, misi, dan tujuan suatu bangsa.

Scroll to Top