3 Hari 2 Malam Relawan ISL Sambangi Sekolah Pelosok Yang Tak Miliki Perpustakaan

Masa pandemi tak menyurutkan para penggerak literasi yang bergabung di Yayasan Rumah Literasi Indonesia (RLI) untuk terus melakukan berbagai kegiatan untuk membantu peningkatan budaya literasi warga Banyuwangi. Tak terasa hampir 1 tahun pendidikan harus menggunakan metode pembelajaran jarak jauh guna meminimalisir penularan Covid-19 yang sampai hari ini masih tergolong tinggi.

Namun, disisi lain banyak sekali muncul masalah yang berkaitan dengan pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak di sekolah. Seperti survey singkat yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Literasi Indonesia, dari 20 orangtua/walimurid PAUD Sahabat Kecil dan Rumah Baca, 90% orangtua mengalami kesulitan dalam mendampingi anak-anak belajar dirumah, 85% punya kendala soal akses internet, 25% tidak memiliki perangkat/gawai pintar untuk belajar online. Lalu ditegaskan lagi melalui wawancara mendalam dengan 10 anak-anak rumah baca, dan hasilnya 90% anak-anak mengalami kebosanan belajar di rumah.

Untuk itu, Project Manager ISL, Lilis I.R yang saat ini menjadi motor penggerak program kolaborasi bersama sekolah-sekolah merancang event “Inspirasi Sekolah Literasi” #additionalsession di Bulan April 2021. Salah satu sekolah yang menjadi target adalah sekolah yang lokasinya memang berada di daerah pelosok. Seperti lokasi yang jauh dari perkotaan, jalan yang rusak, minimnya sumber belajar penunjang serta wilayah yang tdaik ada koneksi signal telepon seluler.

Diawali dari pembentukan Tim Survey, sejumlah relawan menyusuri lokasi dan melakukan assesment terkait sekolah yang akan dikunjungi oleh relawan ISL 2021. Termasuk menyiapkan mekanisme pendaftaran relawan melalui plafform berbasis digital.

Alhasil setelah survey yang open recruitment puluhan relawan ikut bergabung untuk menjadi bagian dari event yang pertama kali dilakukan mengajak sekolah untuk berkolaborasi di masa pandemi. Menariknya, realwan yang berbagung tidak hanya dari Banyuwangi, namun berbagai kota di Jawa Timur, seperti Pacitan, Trenggalek, Surabaya, Jombang dan Jember.

Lokasi SDN 3 Ketapang memang terbilang sulit ditempuh, sebab jalanan yang berbatu dan bergelombang menjadi tantangan tersendiri untuk dilalui, belum lagi ketika turun hujan, jalanan tersebut menjadi berlumpur sehingga dibutuhkan konsentrasi dan kondisi fisik yang baik untuk bisa menjajal trek yang cukup ekstrem. Karena berada di lokasi milik perkebunan PTPN XII, ijin untuk memasuki area tersebut juga tidak mudah, para relawan harus melakukan koosdinasi dan komunikasi berlapis sehingga event yang sudah direncanakan bisa berjalan lancar.

Untuk bisa tiba di lokasi sebagian relawan menggunakan kendaran bak terbuka (Pick-Up) yang juga diisi dengan berbagai perlengkapan logistik semala 3 hari 2 malam di bawah kaki gunung. Selain perlengkapan pribadi relawan juga menyiapkan perangkat media pembelajaran dan donasi buku-buku bacaan untuk anak-anak kampung Kaliselogiri.

Yang membuat kami terketuk untuk menjadikan SDN3 Ketapang sebagai target zona ISL 2021 salah satunya karena tak memiliki perpustakaan dengan sumber belajar yang beragam bagi anak-anak. Sehingga melalui iuran publik, para relawan menggalang donasi untuk bisa menambah buku-buku bacaan yang lebih berkualitas bagi anak-anak.

Di hari kedua, tepatnya pada saat ‘Kelas Literasi” dimana para relawan inspirator menjadi pengajar di depan kelas dan bercerita tentang profesi dan pengalamannya sehingga anak-anak memiliki kesempatan mendengar langsung tentang ragam cita-cita yang bisa menjadi pilihannya di masa yang akan datang. Tak hanya di luar kelas, tapi seluruh siswa juga diajak bermain di luar kelas untuk diajarkan bagaimana bekerja dengan tim sehingga mereka bisa memahami pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan.

Di penghujung “Kelas Literasi” para siswa diajak untuk menuliskan cita-citanya dalam sebuah kertas yang dibentuk seperti daun, binatang dan benda-benada luar angkasa. Mereka menulis sendiri sesuai dengan pilihan cita-cita di masa depannya lalu kemudian ditempel dalam sebuah kertas manila besar untuk dipajang di ruang kelas. Dengan diberi judul pohon harapan, diharapkan para siswa terus bisa melihat saat mereka masuk ke dalam kelas. Termasuk mengingat kembali bagaimana para inspirator memberi nilai-nilai pendidikan karakter untuk bisa menjadi bekal dalam meraih dan mewujudkan cita-citanya.

Tepat pukul 12.00, para siswa diperbolehkan untuk pulang kerumah dan berbagi pengalaman belajar hari itu kepada keluarganya. Selanjutnya para relawan istirahat dan bagi yang muslim bersegera menunaikan ibadah sholat dzuhur kemudian melanjutkan makan siang di ruang kelas yang akan dijadikan sebagai lokasi perpustakaan bersama.

Setelah 1 jam relawan rehat, kemudian mulai mempersiapkan alat-alat untuk mendesain perpustakaan mini di salah satu sudut kelas. Sebagian yang memiliki keterampilan melukis mencoba untuk berimajinasi menggoreskan cat warna-warni tersebut di tembok yang memiliki dasar warna putih. Sebagian lagi menata koleksi buku baru yang didonasikan untuk sekolah sehingga anak-anak bisa memanfaatkannya untuk sumber belajar.

Malam harinya dalah malam yang banyak ditunggu oleh relawan maupun seluruh warga sekolah, sebab agenda selanjutnya adalah “Panggung Literasi”, sebuah acara yang memberikan kesempatan kepada relawan dan siswa tampil diatas panggung sederhana yang disusun dari meja. Mulai dari puisi, bernyanyi, menari hingga teater menghiasi acara ada malam tersebut di tengah guyuran air hujan yang sangat deras.

Yang paling ditunggu, di penghujung panggung literasi, baik siswa, guru dan orangtua disuguhkan satu film pendek inspiratif yang berjudul “Sanggar Senja”. Film yang diangkat dari kisah nyata menceritakan tentang seorang relawan yang mendirikan sanggar baca untuk menadi ruang belajar bagi anak-anak jalanan. Dimana salah satu anak jalanan yang awalnya tak memiliki mimpi akhirnya berhasil bekerja di sebuah perusahaan besar.

Suasana haru diruangan tersbut begitu terasa, film ini cukup memberi dorongan semangat untuk para penonton terutama bagi keluarga yang hadir diacara “Panggung Literasi” tersebut. Melalui sebuah film kita bisa belajar banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pegangan untuk merancang masa depan yang lebih baik.

Tunggul Harwanto, selaku Founder dan CEO Rumah Literasi Indoensia berharap agar kegiatan ISL 2021 ini bisa menjadi contoh kerja kolaborasi antara komunitas, sekolah dan keluarga. Terutama di masa pandemi, kita harus berani mengambil sikap untuk terlibat membangun ekosistem pendidikan yang positif bagi anak-anak. Setahun lamanya anak-anak tak disuguhan kegiatan yang melibatkan interaksi sosial, sehingga dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, komunitas harus terus bergerak mengajak setiap orang yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan.