3 Hari 2 Malam Relawan ISL Sambangi Sekolah Pelosok Yang Tak Miliki Perpustakaan

Di hari kedua, tepatnya pada saat ‘Kelas Literasi” dimana para relawan inspirator menjadi pengajar di depan kelas dan bercerita tentang profesi dan pengalamannya sehingga anak-anak memiliki kesempatan mendengar langsung tentang ragam cita-cita yang bisa menjadi pilihannya di masa yang akan datang. Tak hanya di luar kelas, tapi seluruh siswa juga diajak bermain di luar kelas untuk diajarkan bagaimana bekerja dengan tim sehingga mereka bisa memahami pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan.

Di penghujung “Kelas Literasi” para siswa diajak untuk menuliskan cita-citanya dalam sebuah kertas yang dibentuk seperti daun, binatang dan benda-benada luar angkasa. Mereka menulis sendiri sesuai dengan pilihan cita-cita di masa depannya lalu kemudian ditempel dalam sebuah kertas manila besar untuk dipajang di ruang kelas. Dengan diberi judul pohon harapan, diharapkan para siswa terus bisa melihat saat mereka masuk ke dalam kelas. Termasuk mengingat kembali bagaimana para inspirator memberi nilai-nilai pendidikan karakter untuk bisa menjadi bekal dalam meraih dan mewujudkan cita-citanya.

Tepat pukul 12.00, para siswa diperbolehkan untuk pulang kerumah dan berbagi pengalaman belajar hari itu kepada keluarganya. Selanjutnya para relawan istirahat dan bagi yang muslim bersegera menunaikan ibadah sholat dzuhur kemudian melanjutkan makan siang di ruang kelas yang akan dijadikan sebagai lokasi perpustakaan bersama.

Setelah 1 jam relawan rehat, kemudian mulai mempersiapkan alat-alat untuk mendesain perpustakaan mini di salah satu sudut kelas. Sebagian yang memiliki keterampilan melukis mencoba untuk berimajinasi menggoreskan cat warna-warni tersebut di tembok yang memiliki dasar warna putih. Sebagian lagi menata koleksi buku baru yang didonasikan untuk sekolah sehingga anak-anak bisa memanfaatkannya untuk sumber belajar.

Malam harinya dalah malam yang banyak ditunggu oleh relawan maupun seluruh warga sekolah, sebab agenda selanjutnya adalah “Panggung Literasi”, sebuah acara yang memberikan kesempatan kepada relawan dan siswa tampil diatas panggung sederhana yang disusun dari meja. Mulai dari puisi, bernyanyi, menari hingga teater menghiasi acara ada malam tersebut di tengah guyuran air hujan yang sangat deras.

Yang paling ditunggu, di penghujung panggung literasi, baik siswa, guru dan orangtua disuguhkan satu film pendek inspiratif yang berjudul “Sanggar Senja”. Film yang diangkat dari kisah nyata menceritakan tentang seorang relawan yang mendirikan sanggar baca untuk menadi ruang belajar bagi anak-anak jalanan. Dimana salah satu anak jalanan yang awalnya tak memiliki mimpi akhirnya berhasil bekerja di sebuah perusahaan besar.

Suasana haru diruangan tersbut begitu terasa, film ini cukup memberi dorongan semangat untuk para penonton terutama bagi keluarga yang hadir diacara “Panggung Literasi” tersebut. Melalui sebuah film kita bisa belajar banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pegangan untuk merancang masa depan yang lebih baik.

Tunggul Harwanto, selaku Founder dan CEO Rumah Literasi Indoensia berharap agar kegiatan ISL 2021 ini bisa menjadi contoh kerja kolaborasi antara komunitas, sekolah dan keluarga. Terutama di masa pandemi, kita harus berani mengambil sikap untuk terlibat membangun ekosistem pendidikan yang positif bagi anak-anak. Setahun lamanya anak-anak tak disuguhan kegiatan yang melibatkan interaksi sosial, sehingga dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, komunitas harus terus bergerak mengajak setiap orang yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan.

Scroll to Top