Ambil Peran Melalui Komunitas Baca

Entah, energi apa yang sedang memeluk saya, yang begitu ‘menggila’ mencari orang-orang yang sudah mendaftar menjadi relawan turun tangan untuk bertemu di dunia nyata. Lalu bergerak bersama. Dari 50 relawan Banyuwangi yang terdaftar di website turuntangan.org, saya bertemu 5 orang anak muda Banyuwangi (pada akhirnya;-); di sebuah kecamatan yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Turun tangan adalah gerakan muda terbesar pertama yang menggunakan media social sebagai media kampanye ide/gagasan ke-Indonesian dan politik bersih dimulai, digulirkan dan disebarkan luaskan. Dan saya adalah bagian kecil dari ribuan anak-anak muda kala itu yang terhujani milyaran energi positif tentang Indonesia dari diksi-diksi buah pikirannya.

Selama kurang lebih satu tahun berproses di turun tangan, mengikuti perkembangan gerakan melalui social media twitter, saya belajar. Saya belajar tentang bagaimana optimis, bagaimana merawat harapan, bagaimana mencintai Indonesia tanpa syarat, belajar bagaimana menjadi manusia dengan integritasnya. Saya belajar darinya, pada mentor imajiner saya: anies baswedan.
Saya masih ingat pesan beliau saat beliau ‘kalah’ dalam konfensi presiden yang digelar partai demokrat. “Perjalanan ke depan masih panjang. Turun tangan bukan persoalan satu dua orang dalam sebuah even-even politik. Semangat turun tangan adalah semangat melihat masalah dan terlibat. Ambil kepemilikan atas masalah. Perjalanan kedepan masih panjang. Selama bangsa ini masih ada, maka semangat untuk turun tangan akan selalu hidup.”

INILAH.

Dengan semangat inilah, saya berpikir keras, bagaimana agar semangat mengambil peran di Banyuwangi terus hidup. Dari sinilah, ide peduli kampanye literasi muncul. Mengajak anak-anak muda peduli pendidikan. Selejit kemudian Rumah Literasi Banyuwangi lahir.

Iya.
RLB hadir menyapa kalian.
RLB menyapa sekolah.
RLB menyapa anak-anak desa.

Seperti turun tangan, RLB lahir dan terus bergerak karena keringat orang-orang yang tulus. Keringat orang-orang yang bekerja sepenuh hati. Semoga RLB terus hadir dengan memberikan warisan bahwa hidup adalah makna.

Ide dan gagasan kerelawanan gerakan turun tangan mas anies, saya tiru!

Jujur, saya menirunya.

Saya belajar “mengimitasi” intergritas mas Anies Baswedan, untuk gerakan di Rumah Literasi Banyuwangi.

Saya bersyukur, menjadi bagian dari sejarah munculnya pembuktian masih banyak anak-anak muda yang peduli.

Selamat mas anies!
Selamat telah memenangkan hati kami,
Hati anak-anak muda Indonesia.
😉

___________________________________________

NURUL HIKMAH

Co founder Rumah literasi banyuwangi, Pengelola Rumah Baca sahabat kecil ketapang, pengajar di PAUD sahabat Kecil, dan relawan rumah literasi indonesia

Scroll to Top