
Di sesi selanjutnya, Ayu Laksmi yang diundang sebagai narasumber mengajak semua peserta yang hadir di acara Mudik untuk praktik berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Diawali dari sejarah bagaimana pendidikan inklusif itu mulai masuk di Indonesia hingga ada beberapa model bahasa isyarat di digunakan berbagai negara di dunia.
Bahasa isyarat bisa saja berbeda di negara-negara yang berbahasa sama. Contohnya, Amerika Serikat dan Inggris meskipun memiliki bahasa tertulis yang sama, mereka memiliki bahasa isyarat yang sama sekali berbeda (American Sign Language dan British Sign Language).
Di Indonesia terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan, yakni Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) yang diciptakan oleh Alm. Anton WIdyatmoko seorang mantan kepala sekolah SLB/B (sekolah luar biasa khusus penyandang tuna rungu) di Jakarta. Yang kedua Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang pengembangannya didukung oleh salah satu lembaga donatur dari Jepang yang melibatkan Chinese University of Hong Kong dan Universitas Indonesia.

Selepas memaparkan materi, Ayu Laksmi mengajak semua peserta Mudik untuk praktik memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat. Keseruan semakin terasa saat satu per satu peserta mencoba menghafal abjad yang sudah diajarkan melalui media visual. Meskipun belum semua peserta hafal abjad yang paling dasar, namun mereka tetap semangat untuk memperkenalkan diri bergantian menggankana bahasa isyarat.
Selain menjelaskan huruf abjad, Ayu Laksmi juga mengajarkan isyarat angka, kata ganti orang dan perasaan. Terutama kata yang sering digunakan saat berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khsuus (tunarungu). Di sesi penutupnya, Ayu Lakmsi menekankan bahwa pada akhirnya pendidikan inklusif ini bertujuan untuk membantu anak-anak agar bisa mandiri saat mereka menghadapi kenyataan hari ini dan mempu mempersiapkan masa depannya.

Malalui kegiatan Mudik ini, para pendidik merasa senang dan terbantu untuk terus mengembangkan kempuan guru/pegiat pendidikan sehingga bisa menjadi bekal belajar di ruang-ruang kelas maupun di lingkungan sekitar. Terlebih, tema yang menjadi bahan diskusi bisa sangat beragam, karena masing-masing peserta yang hadir bisa bergantian untuk menjadi narasumber.