
Menurut survey yang dilakukan oleh Bidang Riset dan Pengembangan Inovasi Pendidikan di Rumah Literasi Indonesia, hanya 1 dari 10 anak yang pernah datang ke bioskop untuk menonton film-film layar lebar garapan rumah produksi mayor label. Media belajar lewat film anak-anak masih dirasa sangat kurang. Apalagi TV hari ini lebih banyak hanya mengejar rating daripada menyuguhkan konten positif bagi anak-anak.
Nurul Hikmah, Project Manager Gerakan 1000 Rumah Baca, menegaskan bahwa sebagai pengelola rumah baca, perlu ada agenda-agenda kreatif dan inovatif di rumah baca, sehingga anak-anak tidak hanya disuguhkan buku bacaan saja sebagai media belajar. Tapi, pengelola mampu memfasilitasi beragam sumber belajar yang bisa menumbuhkan budaya literasi di masyarakat. Diantaranya film, alat musik tradisional, sanggar budaya, lokasi wisata, fun game hingga ke hal-hal yang berkaitan dengan internet.
“Nontan bareng keliling rumah baca tidak hanya sebagai program, tapi sudah menjadi gerakan yang digagas oleh rumah baca jejaring Rumah Literasi Indonesia. Termasuk, ada banyak kelas seminar dan workshop yang digagas untuk meningkatkan keterampilan dan wawasan relawan di era digital ini”, jelas Nurul Hikmah.

Rencananya, agenda nonton bareng tahun ini tidak hanya di 5 titik rumah baca saja. Namun, akan ditambah lagi jadwal untuk lokasi nobar khusunya di wilayah Banyuwangi selatan. Hal ini dilakukan karena jaringan rumah baca di wilayah selatan dirasa jauh dari bioskop, belum lagi lokasinya di daerah pelosok desa.
Untuk itu, Rumah Literasi Indonesia akan menggandeng lebih banyak lagi relawan yang bisa terlibat dalam gerakan “Rumah Baca Melek Film” ini sehingga anak-anak di desa mendapatkan kesempatan yang sama menikmati film-film yang berkualitas dan menginspirasi.