Di Bawah Kaki Gunung Remuk, Relawan Gelar Sekolah Pengasuhan

Di Bawah Kaki Gunung Remuk, Relawan Gelar Sekolah Pengasuhan

Tidak ada kemajuan pembanguan tanpa diawali dengan masyarakat yang tercerahkan. Memajukan bangsa bisa di mulai dari keluarga, sebab jika keluarga kuat maka negara secara otomatis ikut menjadi kuat.

Melihat pentingnya pendidikan keluarga untuk bisa menghasilkan generasi yang berkarakter positif, relawan Rumah Literasi Indonesia berkolaborasi dengan Komunitas Guru Merdeka Belajar menggelar Sekolah Pengasuhan.

Berlokasi di bawah kaki Gunung Remuk, Desa Ketapang, belasan keluarga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Diawali dengan acara nonton bareng film pendidikan karya Rumah Literasi Indonesia, warga terlihat antusias untuk berkumpul di halaman salah satu rumah warga.

Faizatun Nikma, ketua panitia kegiatan Sekolah Pengasuhan menjelaskan bahwa pengetahuan tentang pola asuh yang baik bagi keluarga sangat dibutuhkan orangtua hari ini. Banyaknya kasus pernikahan dini serta tingginya tingkat perceraian di Banyuwangi menjadi alasan kenapa Sekolah Pengasuhan ini digagas hingga ke pelosok-pelosok desa.

“Peran sebagai orangtua tidak hanya bagi mereka yang sudah menikah atau memiliki anak, tapi setiap orang bisa ikut serta dalam mendidik. Pengasuhan berbasis komunitas perlu diinisiasi agar orangtua lebih memahami tentang pola asuh yang baik untuk menciptakan generasi positif”, ungkap Faiz yang juga berprofesi sebagai guru PAUD.

Setelah sesi nonton film bertema pendidikan, warga mendapatkan informasi tentang kondisi faktual yang terjadi hari ini. DIantaranya terkait tentang contoh-contoh kasus yang terjadi di masyarakat. Mulai dari urusan interaksi keseharian di keluarga, pendidikan anak berkebutuhan khusus, kekerasan terhadap anak hingga potensi masalah kesehatan yang muncul akibat lingkungan yang kurang mendukung.

Nur Halima, salah satu peserta Sekolah Pengasuhan merasa senang bisa terlibat dalam acara yang digelar oleh para relawan. Sebab ia bisa berbagi cerita tentang pengalamannya dalam mendidik anak kandungnya yang kebetulan berkebutuhan khusus.

“Setiap orangtua bisa saling belajar. Saya merasa terbantu, sebab masyarakat di sekitar rumah lebih memahami tentang peran lingkungan ketika ada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini tentu perlahan bisa mengikis stigma dan diskriminasi”, ungkap Nur Halima

Nur Halima berharap, Sekolah Pengasuhan ini harus terus berjalan, sebab masyarakat yang tinggal di daerah pelosok sangat membutuhkan lebih banyak informasi dan pengetahuan tentang pendidikan keluarga yang baik.

Comments

comments

Close Menu