Gelar Kelas Relawan, RLI Undang Mahasiswa Al-Azhar, Mesir.

Gelar Kelas Relawan, RLI Undang Mahasiswa Al-Azhar, Mesir.

Mengusung tema ”Relawan I am In Love – Menjadi Sebaik-baiknya Manusia”, Dhomaz Manggala Bagaskara yang akrab dipanggil Bagas ikut serta mengisi ruang “Kelas Relawan” bagi pengelola rumah baca yang bersinergi dengan Rumah Literasi Banyuwangi. Laki-laki kelahiran Banyuwangi ini sejak pernah menempuh ilmu di salah satu Pondok Pesantren di wilayah Jogja sebelum meneruskan kuliah di Negeri Piramida. Meskipun sudah lama menginjakkan kaki sebagai mahasiswa Al Azzar, ia tak pernah lupa selalu mengikuti aktivitas dunia pendidikan dan kerelawanan di Tanah Air, khsuusnya di Kota Gandrung yang ia cintai.

“Saya mengapresiasi aktivitas sahabat-sahabat relawan Rumah Literasi Banyuwangi yang baru berusia 3 tahun telah memberikan kontribusi untuk mengajak anak-anak muda putra daerah menginisiasi 50 Rumah Baca sampai ke pelosok desa”, ungkap ia saat sebelum mengisi materi di hadapan relawan.

Bagas menyatakan jatuh cinta dengan semangat gerakan literasi di telah ditumbuhkan bersama-sama. Ia melihat indahnya keberagaman yang sangat harmonis terus mewarnai sebuah rumah yang didalamnya terdapat mimpi yang sangat luhur, yaitu ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa. Ini adalah salah satu alasan Bagas kembali datang ke Ibu Pertiwi untuk bisa berbagi ilmu tentang dunia kerelawanan melalui program “Kelas Relawan” kepada pegiat literasi di Banyuwangi.

Selain sebagai mahasiswa, Bagas juga sangat aktif mengikuti kegiatan keorganisasian di Mesir, salah satunnya ia adalah sebagai pengurus organisasi “Sahabat Al Aqsha serta pernah menjadi relawan Bulan Sabit Merah untuk perjuangan rakyat Palestina. Pengalaman berharga itu sempat di ceritakan kepada para relawan agar tetap belajar tentang nilai ketulusan dan semangat berjuang di jalan kebaikan.

“Awalnya mama saya kaget dan ketakutan ketika mendengar kabar saya akan berangkat menuju perbatasan Palestina untuk bergabung bersama Bulan Sabit Merah sebagai relawan di Jalur Gaza. Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya terlahir di Dunia ini bukan milik siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa, saya hanya titipan, kebetulan mama saya adalah yang diberi amanah oleh Allah untuk menjaga saya. Kelak ketika Sang Pemilik menginginkan saya pulang maka itu sudah takdir Allah, dan saya akan berjuang dengan kesungguhan untuk kepentingan umatnya Nabi Muhammad. Dan ini bukti cinta kita kepada-NYA”, jelas anak muda yang punya hobi menulis ini.

Bagas juga sempat menceritakan tentang pentingnya generasi literat di era digital seperti saat ini. Karena dengan membaca, kita tidak akan mudah terpancing isu yang selama ini sering berkembang di masyarakat dari sumber yang tak jelas. Pendidikan karakter harus menjadi pondasi dimana bahan baku utamanya adalah dengan membaca . Unesco juga pernah mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. 

“Sangat beruntung, ketika Banyuwangi memiliki komunitas yang bergerak di dunia literasi memiliki semangat gotong-royong yang tinggi, dimana banyak anak-anak di pelosok desa masih kekurangan akses buku bacaan yang berkualitas”, ungkap Bagas.

Kecintaannya di dunia pendidikan mungkin tak lepas dari peran orang tua yang juga telah mendedikasikan dirinya untuk membangun sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Lebih spesifik lagi bagi anak-anak yang multiple disabilitas (cacat ganda). Melalui Yayasan Matahati, ibunda Bagas telah menjadi contoh nyata tentang ketulusan melayani anak yang terlahir dengan keterbatasan.

“Mama adalah inpirasi hidup saya”, ucap Bagas saat sebelum mengakhiri Kelas Relawan yang berlokasi di Rumah Baca Sahabat Kecil.

Comments

comments

Leave a Reply

Close Menu