Oleh mansurni abadi
*Divisi fundraising World literacy foundation Singapore/ pengerak PBI *
Era post- truth adalah konsekuensi kondisi zaman yang dihasilkan oleh teknologi dengan sifatnya membakar emosi , menutupi fakta , dan memiliki kecepatan penyebaran yang cepat dengan tiga dogma yaitu rekam ,unggah , bagikan. Hoax adalah salah satu produk post- truth yang paling nampak , dan Gejala ini cepat atau lambat akan menciptakan ranjau perpecahan di Indonesia .
Post- truth adalah bentuk lain daripada strategi konflik halus yang diciptakan oleh jejaring elit di era informasi ini , karena sesungguhnya informasi tercipta bukan dari ruang hampa dan tanpa kepentingan apapum kata Noam Chomsky jadi hal ini harus kita pahami cara penanganan dalam konteks nasional dengan salah satunya lewat kesadaran kita terhadap ide dasar republik ini yaitu gotong royong.
Sekali lagi tentang gotong royong
Harus kita akui Indonesia ada karena gotong royong , bangsa ini dibangun dan dipertahankan lewat gotong royong dari tahap fisik melalui rangkaian revolusi berdarah sampai kepada tahap batiniah melalui revolusi pemikiran yang menciptakan solidaritas sebagai satu entitas kebangsaan di atas segala perbedaan.
maka tidak salah 74 tahun silam , dihadapan sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 , Sukarno berujar dalam pidatonya ” jikalau saya peras yang lima ( Pancasila) menjadi tiga dan tiga menjadi satu , maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen yaitu perkataan “gotong royong “.negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong !.
Alangkah hebatnya ! Negara gotong royong! ( Tepuk tangan riuh rendah ).
Semangat gotong royong yang menjadi philosphie grondslaglah yang menjadi ide dasar pendirian konsep republik ini menjadi negara kesatuan bukan federasi atau pun serikat dan dari semangat ini juga menjadi prakondisi pertama kesepakatan kita untuk tetap bersatu hingga hari ini dalam bingkai NKRI
Perlu kita mengerti jika semangat gotong royong yang kita sepakati sampai hari ini bukanlah suatu konsep solidaritas sosial yang bersifat oligarkis yang memakai kepentingan bersama sebagai alasan untuk pencapaian kepentingan sendiri atau kelompok kita.
Karena Semangat ini hadir bukan melalui rekayasa sosial dari atas ke bawah namun lahir dari bumi manusianya Indonesia yang ditempa oleh kehidupan agrikultur dan maritim yang membuat mereka harus berkerjasama mengembangkan jejaring solidaritas untuk meningkatkan hajat hidup bersama.