Soekarno menegaskan gotong royong kita adalah amal semua buat kepentingan semua ,keringat semua buat kebahagian semua . Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama – itulah gotong royong jadi Amal adalah kunci daripada semangat gotong royong kita .
Kuat atau lemahnya republik ini bukan hanya bergantung pada sistem militer , ekonomi , politik , sosial ,maupun budaya tapi pada kesadaran dan pengamalan kita untuk tetap bergotong royong inilah sebenar- benarnya semangat kemerdekaan , sebenar- benarnya semangat proklamasi ,dan sebenar- benarnya semangat pembebasan.
Hanya lewat gotong royonglah bukti nyata kecintaan kita yang Akbar pada tanah yang gemah Ripah loh jinawi ini .
Gotong royong lewat jejaring kesadaran logis dan humanis
Peran gotong royong dalam melawan era pasca kebenaran hanya bisa dilakukan lewat para generasi muda sebagai kelompok demografi terbesar pemakai teknologi tempat dimana segala hal yang berkaitan dengan post – truth lahir
Peran Generasi muda milinieal sebagai generasi terpelajar harus menjadi garda depan melembagakan gotong royong yang berkesadaran logis dan humanis
Kesadaran logis dan humanis sangat penting dalam pengamalan gotong royong untuk melawan gejala negatif pasca kebenaran karena arus informasi yang masuk disadari atau tidak merekayasa masyarakat kita secara perlahan menjadi lebih dangkal dalam berpikir , ketika sudah berpikir dangkal maka kesadaran yang humanis pun lenyap
Kesadaran logis dan humanis adalah dasar daripada kesadaran pancasialias , jika logis memberikan kita cara berpikir yang sistematis maka humanis memberikan kita cara berpikir mana yang ada manfaatnya mana yang ada mudharatnya bagi sesama kita .
Maka kita sebagai generasi muda harus ikut ambil peran mendidik diri sendiri dan rekan kita untuk ikut berjuang melawan penjajah baru bernama era pasca kebenaran .
Republik yang hancur jelas bukan hal yang kita inginkan di masa depan , kita ingin mewarisi Indonesia yang kekal karena inilah warisan yang paling berharga untuk generasi mendatang dan penentu terhadap persatuan Indonesia kedepan adalah kita yang hari ini sibuk berperang di media cyber atas nama kebenaran semu, membunuh sesama anak bangsa sendiri dalam perang opini yang berlanjut hingga fisik tanpa pernah sadar kita sudah terjebak pada permaianan baru Devide ET Impera era modern.