
SDN 6 Sarongan miliki siswa sebanyak 90 orang. Terdapat 5 Guru PNS dan dibantu oleh 4 guru relawan dari Program Banyuwangi Mengajar. Faslitas sekolah juga perlu mendapatkan perhatian karena ada 3 ruang kelas yang disekat menjadi 4 bagian agar bisa menampung siswa dari kelas 3 sampai kelas 6. Sedangkan kelas 1 dan 2 harus disekat karena sebagian digunakan untuk ruang guru. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa para relawan memilih lokasi ini sebagai tempat kegiatan ISL jilid 4, selain itu karena belum ada perpustakaan di sekolah tersebut.
Kepala SDN 6 Sarongan, Siti Naesaroh merasa senang dan mengapresiasi kagiatan dari relawan Rumah Literasi Banyuwangi untuk membantu guru dan siswa untuk menumbuhkan geliat literasi di sekolah melalui kampanye Gerakan 1000 Rumah Baca. Beliau juga menyaksikan langsung bagaimana proses belajar dan bermain pada program Inspirasi Sekolah Literasi dengan menghadrikan para relawan inspiratory dari beragam profesi.
‘’Sekolah kami belum memilki perpustakaan yang nyaman untuk anak-anak sebagai sumber ilmu yang beragam. Kehadiran relawan RLB ini membuat saya terharu, karena ternyata masih ada anak-anak muda yang peduli terhadap kemajuan literasi di Banyuwangi melalui beragam programnya. Dan saya berterimakasih atas kerja keras relawan untuk mewujudkan perpustakaan di sekolah ini, semoga anak-anak bisa lebih giat membaca dan menjadikan perpustakaan untuk temapt belajar dan bermain yang menyenangkan’’, jelas Siti Naesaroh yang baru beberapa minggu bertugas di SDN 6 Sarongan.

Bergerak selama 3 tahun, Rumah Literasi Banyuwangi di bawah Yayasan Rumah Literasi Indonesia ini telah menggagas 52 Rumah Baca yang tersebar hingga ke pelosok-pelosok desa. Melalui misi inilah banyak sekolah yang ingin melakukan kolaborasi dengan RLB untuk menigkatkan budaya literasi. Tak heran setiap bulannya RLB selalu rutin mendatangi sekolah-sekolah agar memiliki semangat inovasi dalam mengajak anak-anak gemar membaca, bahkan ada beberapa sekolah yang sengaja mengajak siswanya mendatangi basecamp Yayasan Rumah Literasi Indoensia untuk belajar bagaimana mengelola rumah baca/perpustakaan sebagai tempat menumbuhkan budaya baca anak-anak melalui kegiatan yang inovatif.
