“Kami mengangkat cerita yang ringan, sebuah cerita tentang keluarga yang memaksa anak perempuannya untuk segera menikah dengan laki-laki dari salah satu juragan kaya di kampung. Lalu, dengan bahasa yang kocak, kami percaya pesan yang kami smapaikan lebih mudah ditangkap”, ungkap Mola

Menurut informasi dari beberapa tokoh masyarakat, kasus pernikahan dini di Desa Kandangan masih sangat tinggi. Terlebih lagi, tingkat pendidikan rata-rata adalah lulusan SD. Jarang warganya yang lulus hingga SMP. Hal inilah yang juga menjadi data awal, kenapa ISL Jilid 5 ini diadakan di SDN 2 Kandangan.
Faiz Zhatur, Koordinator ISL tahun ini menyatakan bahwa kampanye stop pernikahan usia anak harus terus digalakkan. Medianya bisa lewat mana saja, salah satunya adalah melalui acara Panggung Literasi.
“Kami ingin memanfaatkan momentum ISL ini jadi hal yang berkesan. Tak hanya kepada anak-anak, tapi kepada semua orangtua yang ikut hadir menjadi saksi sebuah pertunjukan sederhana yang syarat makna. Sehingga kampanye stop pernikahan usia anak menjadi isu yang wajib kita angkat”, jelas Faiz perempuan yang juga sebagai Founder Laci Kecil.