Kampus : Merdeka Harga (atau) Mati

Dengan kata lain ilmu, skill dan pengalaman tak bisa dibeli apalagi diwariskan, tapi harus dijalani, diusahakan diasahkembangkan dan dijagapelihara sendiri oleh yang bersangkutan. Kesadaran semacam ini akan mendorong orang berhamburan ke luar dari gedung-gedung. Sebab seutuh-utuhnya ilmu (bukan sekedar data dan informasi) justru ada dalam kehidupan yang sedang berjalan.

Gambaran visualnya kira-kira adalah dengan merdeka belajar setiap tempat akan jadi arena belajar, setiap orang bisa belajar sekaligus mengajar, dan setiap yang kita temui hakikatnya berisi banyak pengetahuan. Hanya tinggal mau disyukuri, dikelola dan dimanfaatkan atau tidak?

Dengan seperti itu, kampus denga tarip SPP mahal akhirnya kurang relevan karena pembiayaan tak lagi tersentralisasi, tapi langsung ditransaksikan dalam proses belajar bersama masyarakat. Disinilah keunggulan Merdeka Belajar : Kampus Merdeka, dana tidak bersirkulasi diranah terbatas, imajiner dan elitis (misal: dalam bentuk pendanaan hibah, workshop yang hanya menghasilkan draft) tapi justru beredar ke sektor riel usaha-usaha milik masyarakat dalam menunjang kebutuhan belajar mahasiswa di lapangan, dan mampu menumbukan kegiatan ekonomi baru di akar rumput yang selama ini menjadi kubangan kemiskinan dan kriminalitas.

Satu lagi, favorisitas kelembagaan juga berpotensi tamat, karena institusi seperti kampus dan sekolah pada akhirnya hanya lebih banyak berfungsi sebagai organizer, administrator yang mengartikulasi sumberdaya kampus dan Local Genius di masyarakat. Sementara eksekutornya dilapangan adalah kolaborasi akademisi kampus, relawan penggerak dan Local Agency yang ada.

Saat ini apa mungkin tercapai? Kok kayak mustahil? Memang, pendidikan setara sebagai kegiatan belajar sekaligus mengabdi, bermanfaat dan menjadi bagian langsung perubahan. Hanya mungkin terjadi, jika peserta didiknya mengerti apa yg sebenarnya dibutuhkan, pihak yang berewenang memberi dukungan dan masyarakat usaha turut berperan dalam megaproyek pendidikan yang mencerdaskan.

Tapi, selama pihak-pihak terkait masih belum bisa melepaskan diri dari bahaya mabuk dokumen, gemerlapnya seremonial, kecanduan branding dan citra, ya susah akan merdeka, baik sebagai individu maupun kolektif sebagai bangsa.

Merdeka Belajar : Kampus Merdeka adalah momentum, masa depan pendidikan adalah masa depan generasi juga pada akhirnya, keluar dari zona nyaman. Melelahkan memang, tapi menjadi bangsa yang tak berdaulat lebih menyakitkan. Finally, Those who survive are not those who are the biggest nor the strongest but those who are most adaptable to change (Darwin).

MERDEKA !!!

Penulis : Nurul Hidayat, Founder Kampoeng Merdeka Belajar

Scroll to Top