KARNAVAL, HAUS TONTONAN KRISIS TUNTUNAN

Disisi lain, Banyuwangi saat ini masih punya pekerjaan rumah yang belum selesai khususnya terkait dengan kasus kekerasan. Merujuk data kekerasan yang dimiliki oleh Pusat Layanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Penanganan Masalah Perempuan dan Anak (PPA), hingga akhir Mei 2023 diketahui kasus kekerasan yang melibatkan anak sebanyak 28 kasus dengan korban sebanyak 49 anak.

Karnaval yang seharusnya memberi teladan tentang semangat gotong-royong justru dicederai dengan penampilan tak senonoh dari para peserta. Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, selain minimnya literasi tentang sejarah perjuangan, pesera karnaval tak sepenuhnya mampu melihat lebih kompresensif tentang makna kemerdekaan yang fundamental.

Belum lagi, panitia karnaval tak memberi batasan tema dan aturan yang bisa dipakai untuk peserta sehingga mereka dengan bebas menampilkan kreasinya melalui berbagai pertunjukan jalanan. Bahkan pernah satu kejadian ada ibu-ibu yang curhat, akibat harus berjam-jam terjebak kemacetan ia bingung harus buang air karena tidak ada WC umum di sekitarnya. Ada juga ibu-ibu yang bingung sebab bayinya rewel akibat kehabisan susu formula dan ia harus menunggu berjam-jam untuk bisa memenuhi kebutuhan minum anaknya.

Memang tak ada yang salah soal perayaan karnaval tahunan ini, tapi paling tidak panitia perlu memilih rute yang tepat agar bisa meminimalisir kemacetan panjang akibat menggunakan jalan nasional. Termasuk, panitia punya ketegasan untuk membuat aturan bagi peserta agar bisa menyajikan pertunjukan dengan berbagai ekspresi didasari dengan upaya mengkampanyekan nilai-nilai pendidikan karakter yang baik, sebab warga yang menonton dari semua kalangan umur.

Scroll to Top