Ketika Anak Zaman Now Jadi Hokage Di Desa

Ketika Anak Zaman Now Jadi Hokage Di Desa

Apa yang teman teman pikirkan tentang Anak zaman Now ? Adiktif dengan gawai sampai sampai sakaw kalau sudah tidak menemukan colokan charger, dan menjadi zombie lagi ketika baterai penuh? Suka meletup letup dengan seseorang diluar sana yang tak sepemikiran? Hobi Bully? Atau generasi yang bapernya gak ketulungan kalau lihat temennya menikah. Apalagi kalau lihat artis menikah yang ditayangin di beberapa stasiun televisi. Pasti udah bayangin.

“ih lucu yaa kalau pasangan ku begini,dengan pernikahan yang begitu

Lalu, bagaimana kalau lihat pernikahannya Kahiyang Bobby? tidak tidak, kita tidak bahas itu. Balik lagi, fokus. Beda sekali dengan generasi sebelumnya, yang membedakan adalah ekspresi anak zaman now kirim emoticon tertawa. Datar. Ekspresi generasi sebelumnya bakalan meletup letup kalau soal emotikon tertawa. Apalagi kalau sudah salah kirim istilahnya ngakak so Hard. Ini bukan soal kebanyakan MICIN atau apa, tapi memang zamannya udah beda.

Tapi pernah bayangin tidak, Anak Zaman Now, kembali ke desa untuk membangun desanya sendiri, atau jadi Hokage di desanya. Saya tidak bisa bayangin, betapa cepatnya desa itu bakalan berubah. Sayangnya, tak banyak yang berani kembali ke Desa. Padahal kalau dilihat, desa kini menjadi sorotan. Perubahan itu terjadi dari pinggir. Perubahan yang sustainable tentunya. Coba cek deh orde baru dulu, kita pernah Swasembada beras lho. Iya Swasembada beras. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraria pernah jadi pengimpor beras terbesar lho pada 1966, mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri melalui swasembada beras pada 1984. Pada 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton beras, sementara pada 1984, bisa mencapai 25,8 juta ton beras. Kesuksesan ini mengantarkan Pak Harto diundang berpidato di depan Konferensi ke-23 FAO (Food and Agriculture Organization) /Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia), di Roma, Italia, 14 November 1985. [Sumber: Jurnal Diplomasi Vol. 3 No. 3 September 2011, Pusdiklat Kementerian Luar Negeri RI]. Itu Bukti bahwa pak harto cerdas memanfaatkan “pinggiran” sebagai roda perekonomian. Desa sekarang menjadi pilihan, kalau di Banyuwangi “apa apa ” cukup di desa. Pelayananan apapun cukup di desa , mulai dari nikah, anak lahir, sampai mati cukup di desa. Bahkan, kabarnya daftar bpjs, skck bisa di desa (desa tertentu).

Baru baru ini, di Banyuwangi ada pemilihan hokage serentak di 51 desa yang tersebar di 23 kecamatan. Total jumlah calon Hokage ada 185 caHok, menelan biaya APBD tahun 2017 sebesar 2,8 M. Coba cek, dari 185 caHok ada beberapa dari anak kids zaman now? Harusnya mereka mengambil peran dengan kembali ke desa untuk menata desanya. caranya? salah satunya jadi hokage. Dana yang mengalir ke Desa sudah cukup besar, jika tidak diimbangi dengan Hokage yang mumpuni, bisa bablas tuh anggaran. Entah itu beli korden yang masih bagus, atau benerin jalan yang sudah bagus, atau beli apapun yang sebenarnya tidak penting demi penyerapan anggaran mencapai lebih 80%.

Benar benar butuh Hokage yang melayani 24 jam, dan paham dengan desanya. Dibalik, meletup letupnya anak kids zaman now banyak juga sisi positifnya. Kreatif, cepat, ingin perubahan yang baik dan satu lagi peduli. Sudah seharusnya ambil peran, janan mau kalah dengan generasi yang mau ambil untung saja. Kita juga mau lihat Hokage yang suka ngopi di kafe warganya sambil diskusi APBDes, suka tergugah dengan orang yang susah dengan bikin kampanye di sosmed, nimbrung di twitter atau facebook melayani masyarakat tanpa batas dan waktu. Apalagi Hokage yang rajin ngevlog tugas sehari harinya diunggah di youtube. Selain jadi Hokage, jadi youtuber juga.

Keren kali yah?

 

___________________________________________

Rahmadinata Syafa’at S.SI

Relawan di Rumah literasi Indonesia yang kebetulan menjadi Staff Desa di desa literasi ketapang.

Leave a Reply