
Zen Kastolani, Kepala Dinas PP dan KB saat ikut membuka Kongres Anak 2019 memaparkan tantangan kondisi sosial hari ini begitu besar. Sebab, pesatnya kemajuan dan tekhnologi di era industri 4.0 ini akan mengubah pola interaksi manusia dan mempengaruhi komunikasi mulai di dalam keluarga, lingkungan kerja atau aktivitas keseharian manusia.
“Untuk menyiapkan generasi yang berkarakter dan berwawasan, pemerintah harus mengajak lebih banyak lagi masyarakat terlibat, sehingga anak-anak terpenuhi hak-haknya”, ungkap Zen Kastolani.
Salah satu isu penting yang disuarakan di Kongres Anak 2019 adalah tentang budaya literasi yang masih rendah. Menurut tim Riset RLI, ada berbagai persoalan kenapa Banyuwangi harus lebih membumikan pentingnya literasi sebagai pendorong perubahan di seluruh aspek kehidupan.

Nanang, Faslitator nasional yang didatangkan dari lembaga Plato memaparkan betapa pentingnya budaya literasi agar anak-anak bisa memprediksi situasi ke depan. Menurutnya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan untuk menjangkau dan memperluas wawasannya di lingkungan tempat tinggalnya.
“Membuka akses dan mengajak berbagai elemen untuk bisa terlibat mendidik adalah solusi yang perlu didorong. Karena pemerintah tentu memilki keterbatasan untuk menjangkau kelompok-kelompok anak-anak yang rentan. Sehingga melalui partisipasi di level akar rumput, berbagai permasalahan bisa terurai perlahan”, ungkap Nanang saat memfasilitasi Forum Anak Banyuwangi
Salah satu output kegiatan yang digagas selama 3 hari ini selain menghasilkan rancangan program selama satu tahun, anak-anak juga membuat rekomendasi terhadap beberapa persoalan yang diangkat sebagai isu strategis dalam mewujudkan Kota Layak Anak.