Dengan kondisi bernegara yang semakin absurd. Kezaliman dibalas dengan diam. Tak adil rasanya jika menyalahkan salah satu pihak, rakyat atau pemerintah. Si yang punya kuasa belakangan serasa sedang memainkan lakon wayang paling lucu. Penegakan hukum disetting sedemikian rupa, kasus tentang keadilan entah dimenangkan siapa. Maka wajarlah rasanya rakyat yang hanya punya hak bersuara ini lantas melakukannya. Ramai2 digoreng di sosial media. Dibumbui tokoh-tokoh ikut carut marut didalamnya. Inovator dianggap aneh, sedang si nihil prestasi dielu2kan karena hebat dalam “memainkan peran”. Salah pemerintah sepenuhnya? Bukan juga. Walau sistem demokrasi menempatkan rakyat diatas segalanya , namun apakah elok dilihat jika yang harusnya dipimpin berlagak seperti pemimpin?
Segalanya dibabat habis dengan hastag dan berita hoaknya. Kasus yang harusnya bisa diatasi ditingkat regional menjadi seolah masalah bersama, sebangsa dan senusantara.
Diera keterbukaan, mari sama-sama terbuka , minimal, dengan dirinya sendiri. Terbuka dan jujur, mengakui bahwa jika belum mampu menyelesaikan persoalan diri sendiri, maka lebih bijak jika selesaikan dulu. Baru boleh membenahi yang lain. Lakukan peran sebagai rakyat dengan sebenar-benarnya rakyat. Sebagai pemimpin lakukan selayaknya pemimpin. Sadari sebaik apapun anda, tidak akan mampu mengubah segalanya sendirian, apalagi hanya berkomentar.
Mari, mulai hari dengan melakukan hal terbaik sesuai area kita masing-masing. Percayakan mereka, diluar diri, melakukan tugasnya masing-masing.
Mulailah dari diri, keluarga, tetangga, dan kampung halaman. Disanalah area kita saat ini. Area jihad yang menuntut kita bersama-sama mengambil peran apapun. Omong kosong jika ingin merubah Indonesia dengan komentar-komentar tanpa melakukan tindakan. Merubah Indonesia syaratnya bukan tentang siapa pemimpinnya. Merubah Indonesia syaratnya adalah kesadaran dan gotong-royong.
Oleh
Achmad iqbal
Dosen universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Lakukan sesuai Kemampuan