Markonah Datang, Keributan Bertambah

“bu ibu, pak bapak, bapak kepala desa sudah datang, bagaimana selama satu periode ini  apakah banyak perubahan dengan desa ini?” Pekik Bu Marisa alias markonah.

Semua hadirin yang ada sepakat menjawab. “Tidak”

“Coba pilih aku dulu….” Sambil sebar sebar uang koin dan kertas ribuan.

“Ayo turun dulu markonah, turun! Kita bicarakan baik baik. Gak enak sama warga” Rayuan kades ini adalah salah satu keahlian yang dimiliki sehingga tak hanya markonah, warga desa pun kepincut dengan rayuan rayuan pak Suhil yang akhirnya mereka memutuskan memilih bapak Suhil sebagai Kepala Desa Kalang Kabut.

Sambil menggenggam tangan markonah, kades bicara dengan lembut merayu supaya tak usah lagi buat kegaduhan seperti ini. Beberapa menit kemudian Markonah menangis.

“Sakit pak..” Sambil menyeka matanya.

“ooh terlalu keras ya mengenggamnya.”

Seisi warung tertawa.

Tiba tiba dari kejauhan ada seorang berjalan dengan khasnya memakai belangkon. Orang agak sakti tapi kritis ini menyapa semua yang ada di warung.

” Assalamualaikum,…” Sapa Ki Sableng Dewantara.

“Waalaikumsalam Ki, darimana saja ini? Kok baru muncul? ini ada ramai ramai kok baru datang” Jawab Kades.

” Tanpa datang saat peristiwa saya sudah tau, masalah kalang kabut ya gitu gitu aja, kepala desanya ya gitu gitu aja programnya, ini masalah kampanye dini bu markonah, tho?” . Dengan santainya sambil memakan singkong rebus yang ada dimeja.

” Sudahlah Pak Kades, Sampean sama bu Markonah sama saja. Bedanya Bu markonah tak punya panggung kekuasaan seperti samean. Jangan salahkan bu markonah sudah bener belum membentuk forum rembug warga? Belum tho?”

“Hak Bu markonah untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa meskipun pemilihan masih lama, tiga tahun lagi. Bu markonah melakukan demikian berarti merupakan bentuk protes bahwa ada yang salah dalam berdesa oleh samean pak suhil.”

” Sudah, Sekarang semuanya ikut saya.”

Akhirnya Kepala desa, Bu markonah, Adroi, Warga mengikuti Ki Sableng. Mereka berjalan agak jauh, melewati sungai, sawah yang membentang, hingga berhenti di rumah warga yang ambruk. dan disitu ada seorang kakek yang kesulitan membetulkan kursi satu satunya yang nyaris selamat. Rumah kakek rusak itu akibat terjangan angin puting beliung.

” Lihat para warga, pak kades bu markonah, jangan hanya rebutan kursi saja, tolong dibantu warga ini untuk membenarkan kursi dan rumahnya. Ayo semua bahu membahu membenarkan rumah Kakek ini.”

Mereka bergotong royong, seharian untuk membantu kakek dalam membenarkan rumah yang sudah roboh itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan, dan banyak yang memerlukan bantuan daripada hanya rebutan kekuasaan.

 

Scroll to Top