Bukan pangeran diponegoro, ini dia Pangeran diPondoknongko

PANGERAN DIPONDOKNONGKO

Ia pengelola Rumah Baca Padepokan. Bulan Maret 2015, ia bersama Relawan Rumah Literasi Banyuwangi menginisiasi 4 Rumah Baca di desanya: Rumah Baca Padepokan di dusun Krajan, Rumah baca ABATA dilingkup pondok pesantren carang urip, rumah baca akar hidup di dusun palu kuning dan rumah baca cemara di pantai cemara. Di desanya, ia lah yang menjadi “tulang punggung” kawan-kawan mudanya dalam hal organisasi kepemudaan. Ia yang diberi kepercayaan penuh untuk mengayomi adik-adik di desanya. Anak kecil mana yang tak kenal sosoknya di Pondoknongko. Kalau pun tak kenal namanya. Wajahnya begitu mudah diingat. Ia menyatu dengan masyarakat.

Ia sederhana.
Ia unik.
Ia Relawan Nol Rupiah.
Ia Lucu.
Satu-satunya di Rumah Literasi Banyuwangi yang senatural ia.

Masih belum ada yang mampu mengimitasinya secara fisik, secara mimik dan gesture. Apalagi soal gaya berbahasanya. Ini yang paling unik. Entah karena tak begitu banyak perbendaharaan kata bahasa Indonesia yang ia miliki: sehingga, terkadang kata yang keluar dari lidahnya terdengar aneh dan menghasilkan gelak tawa bagi si pendengar. Disetiap percakapan dengannya selalu melahirkan kosakata baru. Kosakata yang hanya ia yang paham maknanya.

Ia orang using.
Orang Banyuwangi asli.
Logatnya kental betul.
Lidahnya tak bisa pindah kelain bahasa. Saat ia berbahasa Indonesia pun, logat using nya mendominasi. Tekstur kata Bahasa Indonesia yang ia ucap kan berubah “rasa” nya ( bisa membayangkan? saya tidak 😂)

Kalau sudah melucu. Semua yang mendengar pasti meledakkan tawa. Tak perlu disuruh untuk “melucu”. Bercerita kesehariannya saja begitu natural dan apa adanya. Tak dibuat-buat. Kalau pun Ada cerita yang dibuat-buat, ia pandai betul membungkus cerita menjadi senatural mungkin dan based on true story.

Kata Mas Faisal, Ia adalah “aktor” yang sudah mumpuni disetiap cerita hidupnya. Menertawakan hidup yang sedang dihidup-hidupinya. Orang sepertinya harus diberi panggung untuk mengeksplore “kelucuannya” di luar. Semacam ada pentas untuknya. Tak banyak yang mampu sepertinya. Sekelas seniman mas Faisal Riza mengakui kalau masih butuh teks atau skenario untuk melucu.

Tidak dengan Absor.

PAUSE

Memang tak ada habisnya jika bercerita soal ia. Kali ini, sebenarnya cerita pengalaman kak yohana bersama si pangeran dipondoknongko. Cerita yang diceritakan kembali kepada saya. Dan akan saya ceritakan kembali disini. “Pahlawan Kecil” dari desa Pondoknongko : absorullah nama panjangnya.

Pramuka adalah passion nya.
Si Absor mendapat undangan.
Undangan menjadi pembina pramuka di sekolah yang suasana sekolah dan karakter siswanya tak seperti biasa ia handle selama ini.

Sekolah SD yang hampir seluruh siswanya adalah anak orang kaya. Sekolah yang hampir seluruh siswanya memiliki nama-nama yang bisa membuat lidah si Absor “keserimpet”. Sekolah yang siswa nya diajarkan wajib berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai kaidah EYD.

Mikail..!
Absor sedang mengabsen nama.
Anak-anak yang ada didepan nya tengok kanan-kiri, saling bertanya dalam expresi wajah. Kira-kira artinya “siapa mikail?”

Tak ada yang menjawab.
Absor grogi.
Ia pucat pasi.

Yohana menghampirinya dan membantunya membacakan nama yang tertulis : Michael!
Lalu seorang dari Pramuka Kecil itu mengangkat tangan.

Scroll to Top