Melihat Ketimpangan Pendidikan, Milenial Tergerak Iuran Publik Lewat Program ISL

Sejak November 2014 Rumah Literasi mengundang Dan membuka peluang bagi bakat – bakat muda terbaik, dari berbagai disiplin ilmu untuk terlibat dalam perbaikan – perbaikan atas masalah pendidikan di sekitar kita. Setiap tahun kami bertemu dengan puluhan anak-anak muda dari berbagai daerah yang mendaftar program ISL.

Afandi, pemuda yang mendaftar sebagai Relawan Inspirator mengaku senang bisa terlibat dalam program ISL tahun ini. Mahasiswa yang menekuni dunia videografi ini menjadi guru selama 1 hari dan mnginspirasi tentang profesinya di era industri kreatif kepada anak-anak di ruang kelas.

“Saya merasa tergerak untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Saya merasakan energi yang positif saat berkumpul dengan para relawan. Meskipun saya bukan seorang guru, disini saya punya semangat belajar untuk bisa berbagi cerita di depan adik-adik usia sekolah dasar. Dan ini pengalaman yang sulit untuk dilupakan”, ungkap Afandi Mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Kota Apel.

Selama 3 hari relawan terpilih belajar merumuskan metode pembelajaran yang menyenangkan dan dengan menggunakan pendekatan memanusiakan hubungan. Sebuah metode yang berorientasi pada anak dengan konsep merdeka belajar. Tiga hal yang ttidak boleh dilupakan dalam proses belajar mengajar merdeka belajar : memiliki tujuan belajar, kemandirian dan refleksi.

Selama 3 hari pula peserta di wajibkan membiayai sendiri kegiatan sosial pendidikan ISL. Dengan Iuran publik kegiatan ini menjadi lebih terasa mengharukan dan mengirimkan pesan optimis pada kita semua bahwa Indonesia masih memiliki generasi muda yang peduli dan mengambil tanggung jawab atas kondisi pendidikan di pelosok yang mengalami banyak ketimpangan dan keterbatasan.

Puncak acara para relawan juga diajak camping di perbukitan dekat sekolah sasaran. Saat malam hari mereka diajak untuk refleksi tentang 2 hari perjalanan mengabdi di sekolah yang kondisinya masih belum mendapat perhatian maksimal baik dari pemerintah maupun sektor swasta.

Mola Maulidi, selaku Project Manager ISL menutup acara di malam refleksi dengan mengucapkan selamat kepada seluruh relawan muda yang pernah, sedang dan akan terus terlibat pada masalah – masalah pendidikan di daerah. Termasuk berterimakasih telah menjadi bagian dari ikatan untuk membangun “Indonesia Kita” dengan spirit tetap “Bergerak Dari LIterasi”.

Scroll to Top