Membangun StartUp Komunitas di Era Keterbukaan, Bagaimana Memulainya?

Oleh : Nurul Hidayat (Founder Kampoeng Recycle Jember)

Pengalaman Sebagai Pengurus RT, sebuah kelompok kecil dimasyarakat harus tetap dijaga agar tetap SIBUK dgn kegiatan yg berorientasi kemajuan. Bisa dgn membuat program pengembangan atau sekedar kegiatan rutin namun memperkuat ikatan, semacam kerjabakti. Pada warga yg kental kultur nongkrongnya bisa ngopi di poskamling sekedar memperpendek jarak social

Sebaliknya RT yg kurang terorganisir dan miskin kegiatan, yg umum terjadi adalah interaksi menjadi sangat artifisial, forum hanya mjd kanalisasi liar kekecewaan yg tak jarang salah sasaran. Bukan karena warganya brengsek tapi bingung akan mengkonversi pikiran dan potensinya.

Karena terlalu lama menahan dendam atas ketidak adilan yg disebabkan oleh sistem yg lebih besar. Akibatnya begitu ada kealpaan dikit dari warga lain atau kelalaian pengurus, akan jadi Sansak sublimasi kemarahan dan ketidak puasan, yang kadang semakin berkobar tidak produktif dgn dorongan2 sentimen personal. Intinya, energi warga (potensi, bakat, waktu luang dan harapan) harus dibuatkan saluran. Limbah emosi dari retaknya pergaulan dikonversi jadi harapan bersama dalam bentuk cita2 kolektif

Hal demikian bisa bermanfaat sebagai medium silaturohmi, setidaknya dalam konteks relasional, ada perbaikan kualitas. status yg semula hanya kenalan, naik menjadi pertemanan, bagus kalo sampai pada level sahabat. Hanya memang pada level terakhir dibutuhkan ujian tak jarang berpotensi perpecahan. Tapi masih lebih baik daripada pura2 solid.

Merumuskan orientasi, memetakan peran akan melahirkan rasa Tanggungjawab sekaligus makna bagi setiap warga. Jika konsisten dilakukan, akan berdampak positif pada sense of belonging dan soliditas.

Pada level ini, setiap orang bisa saling percaya, secara suka rela. Warga akan siap berinvestasi bahkan secara emosional semacam kesetiaan. Barangkali inilah yg sering diistilahkan dgn sosial kapital. Bukan sekedar jaringan tapi siap dikonversi sejalan dgn hukum progresivitas sosial menuju keadaan yg lebih berkualitas

 

Sebaliknya. Kerumunan yg tidak terkelola dan disorientatif akan menggerus ke dalam. Kelompok akan jadi arena sublimasi kekecewaan personal. Relasi menjadi sangat rentan karena berdiri pada asas yg primordialistik, misal barisan sakit hati atau kelompok korban marginalisasi kekuasaan.

Scroll to Top