Ikatan sentimental sebagai sesama korban sistem barangkali cukup solid, tapi bersifat temporer. Mudah sekali pecah karena isu sepele, perasaan tersinggung atau sekedar salah paham hal sederhana. Atau setidaknya kalo pun bertahan tapi semu, bahkan bisa fake. Yg lebih mengkhawatirkan jika sampai pada level saling memanfaatkan secara terselubung.
Oleh karena itu saya berpendapat. Perkumpulan ini harus naik kelas, jangan sampai statis apalagi regresif lalu bubar dgn tidak terhormat.

Menuju Perkumpulan yg mampu jadi medium pengembangan diri memang tidak gratis dan gampang, tapi juga gak mahal dan ribet. Bisa dimulai dari memasang pilar2 utamanya dan berangkat dari yg Sdh ada sambil terus berusaha. Melengkapi yg belum Secara Kolektif, minimal ada Orientasi/VISI bersama, Inspiring LEADER/inisiator (bukan pengurus dan biasanya muncul secara natural) dan HARAPAN (yg operasional bukan hayalan)
Secara Individual, ada komitmen (bukan belenggu senioritas), kepercayaan (bukan taqlid) dan partisipasi sadar (bukan hegemonik). Saya yakin banyak hal besar bahkan yang nyaris mustahil bisa diatasi jika bersama2 beneran. Sebaliknya, banyak hal remeh yg Terbengkalai jika tak terorganisir dan cenderung menggerogoti dari dalam

Perbedaan pasti ada, namun sebatas teknis bukan ideologis. Khilaf tentu tidak steril, tapi Jiwa Kelompok akan membuat memaafkan jadi mudah. Kelompok akan menjadi sarana artikulasi potensi, bukan arena Kontestasi kepentingan pribadi
Soal Apa yg menjadi harapan, siapa yg bertanggung jawab dan bagaimana cara memenuhi harapan, setiap kepala bisa menemukan cara terbaik sesuai bakat dan keilmuannya sendiri. Yang penting komunikasi. Komunikasi yg dimaksud adalah silaturohmi, bukan sebatas virtual. Karena indahnya senyum, nikmatnya Ngopi dan tulusnya perhatian tak bisa diwakili pakai emoticon, pdf dan jpg

Dgn memperbaiki secara mendasar basis/cara kita berelasi dan berinteraksi, setiap potensi secara mutualistis akan terdongkrak bersama potensi yg lain, saling menumbuhkan dan membaikkan, tak kan ada yg ketinggalan apalagi dgn sengaja diabaikan.