MEMUTUS RANTAI PERMASALAHAN PENDIDIKAN (Sebuah Refleksi)

   Adalah bagaimana memperbaiki dan meningkatkan kinerja layanan pendidikan di setiap satuan dan jenjang pendidikan. Paling penting bagaimana mengurangi disparitas layanan pendidikan antar daerah/wilayah, sehingga bisa dicapai pemenuhan mutu pendidikan secara adil. Komitmen terhadap problem disparitas pendidikan akan berdampak kepada perlakuan yang sebanding antara sekolah-sekolah urban (kota), dengan sekolah-sekolah rural (desa), atau sekolah-sekolah dengan katagori sulit akses pendidikan.

    Di Banyuwangi, selama ini problem tersebut cukup menonjol, sehingga kesanya sekolah kota selalu lebih baik, lebih diminati daripada sekolah-sekolah pinggiran. Disparitas juga terjadi antara sekolah swasta dengan sekolah negeri. Hal tersebut harus diatasi, dan kedepan tidak boleh terjadi, atau paling tidak dikurangi. Bisa jadi tingginya angka putus sekolah di daerah ini juga karena problem disparitas yang belum selesai. Tentu faktor-faktor non tehnis seperti  ekonomi, sosial budaya juga tetap harus diperhatikan.

Wujud komitmen tersebut dapat dipenuhi melalui  sejumlah aksi, antara lain :

Pertama, penyebaran dan pemenuhan tenaga pendidik professional ke seluruh wilayah (sekolah) di Banyuwangi,

Kedua, pemenuhan infrastruktur pendidikan dasar  ke semua kawasan banyuwangi,

Ketiga, pemenuhan fasilitas pendukung pembelajaran sesuai kebutuhan dan karakter sekolah,

Keempat, pemberlakuan kebijakan-kebijakan khusus bagi sekolah-sekolah dengan akses sulit (katagori terpencil/pinggiran),

Kelima,merealisasi dan menguatkan kebijkan afirmasi yang lebih besar kepada  sekolah dan peserta didik dari keluarga kurang mampu untuk memutus angka putus sekolah,

Keenam,mengajak serta orangtua murid – juga semua pihak berkepentingan untuk se besar-besarnya melakukan peran-peran fasilitatif dan kontrol penyelenggaraan – pembelajaran di rumah, di sekolah dan juga  dan diluar sekolah.

______________

      Mohammad Hasyim, pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

Scroll to Top