Merawat Cita – Cita Melalui Kolaborasi Pengasuhan Keluarga Di Kampung Bongkoran

Oleh : Tim Media RLI

Puncak acara Pesta Gerakan Pendidikan dibulan pendidikan yang digelar oleh Rumah Literasi Indonesia adalah Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) yang kini telah memasuki jilid ke 10. Perayaan dari kerja kolaborasi bersama relawan peduli pendidikan, pegiat pustakawan, seniman maupun stakeholder yang turut andil dalam puncak acara ini membuat meriahnya acara yang digelar di Kampung Bongkoran Kecamatan Wongsorejo. Relawan yang turut ambil tanggung jawab berasal dari berbagai daerah yang tak hanya di Banyuwangi saja, ada Yogyakarta, Klaten, Jakarta, Pacitan, Mojokerjo, Bojonegoro, Trenggalek dan Jember.

            Tunggul Harwanto, selaku Founder dan CEO Rumah Literasi Indonesia mengatakan bahwa ketimpangan yang terjadi perlahan harus segera teratasi dengan cara bersaksi dan hadir. Gerakan ini harus tumbuh, komunitas-komunitas kecilpun tak jadi soal jika urusan dengan gerakan-gerakan kerelawanan. Lokasi Inspirasi Sekolah Literasi jilid 10 kali ini yaitu Kampung Bongkoran yang ada di kecamatan Wongsorejo. Kampung ini merupakan desa konflik agraria. Lokasi yang dipilih selain merupakan daerah akses sulit salah satu alasan lainnya adalah antusias warga itu sendiri, meskipun daerahnya adalah daerah konflik namun semangat untuk terus belajar dan membuat ekosistem belajar yang seadanya dengan menyenangkan itu kami lihat disana. Hal itu terbukti dengan masih adanya rumah baca yang terus coba dilestarikan dengan sumber belajar seadanya. Rumah baca Bongkoran adalah rumah baca yang menjadi salah satu rumah baca yang dibuka oleh Rumah Literasi Indonesia pada Maret 2015.

Seperti tujuan dasar dari ISL yang selalu menekankan pada 7 dasar nilai pokok mendidik, kegiatan inspirasi sekolah literasi kali ini ada pengembangan, yang sebelumnya hanya berfokus pada kelas literasi anak dan pengembangan perpustakaan. Namun, ISL kali ini ada yang spesial yaitu ada kelas parenting bagi orang tua dengan harapan mampu memberikan gambaran kepada para pendidik dan orang tua untuk terus memahami potensi-potensi besar yang ada pada anak sehingga lebih memudahkan dalam memilah bakat dan minat yang perlu dikembangkan dalam hal penunjang cita-cita.

            Project Manager Lilis I.R yang menjadi motor penggerak program dari ISL dalam awal penyusunan model baru yang dibantu oleh beberapa relawan lainnya membayangkan dengan analogi sederhana bahwa pendidikan dasar dimulai dari rumah, kemudian kami membayangkan betapa indahnya ketika orang tua dan anak memiliki kolaborasi yang selaras ketika berada dalam situasi hati dalam meraih cita-cita yang sama. Kebanyakan ketika kelas literasi hanya ada pada anak saja, anak ketika menerimanya akan memiliki semangat yang kuat dan percaya terhadap cita-citanya. Namun, ketika sampai dirumah hal itu kurang bisa dikomunikasikan dengan baik dengan orang tua yang tak mengetahui atmosfer didalam kelas tersebut, sehingga nilai dari kelas literasi hanya selesai hari itu juga. Begitupun sebaliknya, ketika ada kelas parenting, tak jarang ketika kegiatan selesai, orang tua akan mencoba menerapkan ilmunya kepada anak tanpa adanya komitmen dahulu bersama anak, sehingga akan terkesan mandatory dan diktaktor. Dasar itulah yang membuat kita mengkolaborasikannya dalam “Merawat cita-cita anak melalui kolaborasi pengasuhan keluarga”. Ketika anak dan orang tua mendapat materi yang sejalan akan membuat persepsi mereka sama, sehingga ekosistem baik akan tumbuh didalamnya.

Kelas anak diadakan di SDN 4 Wongsorejo dan Kelas Parenting kami barengkan dengan Kelas anak usia dini yang bertempat di Omah Tani Kampung Bongkoran. Bapak Katam selaku kepala sekolah SDN 4 Wongsorejo menyampaikan bahwa kehadiran relawan diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi siswa-siswi pelosok yang ada disana, beliau mengatakan sebelumnya sudah pernah ada kegiatan seperti ini namun sangat disayangkan koordinasi yang dilakukan seolah menerobos aturan yang diterapkan di sekolah, itulah yang membuat Pak Katam sedikit meragukan kedatangan kami sebelumnya. Namun, koordinasi dan komunikasi yang baik, penjelasan tujuan kedatangan relawan dan tujuan dilakukannya ISL menjadi pemahaman baik bagi beliau untuk menerima kehadiran relawan dengan harapan dapat memberikan penanaman karakter yang baik pula dalam merawat cita-cita.

            Kelas literasi yang diadakan di sekolah yang melibatkan puluhan relawan dengan profesi yang beragam mendatangkan antusias tersendiri bagi anak-anak. Pagi hari kami melakukan kegiatan pembuka berupa upacara bendera, pak Katam selaku kepala sekolah menyampaikan dalam amanat upacara agar adanya pemakluman dalam upacara bendera yang dilakukan, pasalnya dengan segala keterbatasan yang ada seperti anak-anak banyak sekali yang tidak bersepatu alias mereka memakai sandal, sehingga kepala sekolah mengatakan mohon adanya pemakluman dengan kondisi yang ada. Namun, relawan sedikitpun tak merasa bahwa esensi belajar dinilai dari seragam, tetapi kami sebagai relawan akan berfokus bagaimana pembelajaran yang ramah anak dan pembelajaran menyenangkan hadir didalamnya.

            Kelas Literasi dihari kedua dilaksanakan dengan bahagia dan penuh suka cita. Relawan dengan berbagai profesi mengenalkan profesinya dan bagaimana keseharian profesi yang dijalaninya. Relawan juga melakukan pendekatan yang harapannya dapat memantik semangat mereka dalam meraih cita-cita dengan memahami potensi yang ada dalam dirinya. Penanaman karakter juga menjadi fokus dalam kegiatan kelas literasi ini, hal yang dilakukan untuk menunjang adalah dengan dilakukannya outdor learning dengan bermain sambil belajar melalui kolaborasi antar teman, kekompakan serta kerja sama antar tim. Hal ini diterapkan dengan harapan mereka mengetahui bagaimana kerja kolaborasi akan membuat ekosistem belajar lebih menyenangkan dan tak membosankan.

            Tiwuk Lejar salah satu relawan mengatakan bahwa tugas mendidik bukan hanya tugas perempuan saja, namun kolaborasi orang tua yang selaras harus hadir dalam konsep mendidik anak, dan mendidik anak tidak bisa dilakukan mendadak. Kehadiran dukungan orang tua dalam mendidik menjadi salah satu kunci dalam menumbuhkan kepercayaan anak dalam hal merawat cita-cita. Kelas parenting dan kelas literasi anak usia dini dilakukan di omah tani. Pendongeng asal Bojonegoro, kak Ferri yang turut andil memeriahkan kelas literasi anak usia dini mengatakan bahwa anak perlu sekali mendapat penanaman konsep yang kuat bahwa belajar itu menyenangkan, belajar itu jauh dari kata membosankan sejak usia dini, sehingga kak Ferri memilih konsep dongeng sebagai metode pembelajaran yang diberikan, terlihat antusias anak usia dini menyambut kak Ferri dalam dongeng yang dilakukan bersama UNSA boneka dongeng kak Ferri.

Scroll to Top