Indonesia pada dasarnya adalah negara yang disusun diatas banyak nasionalisme berbasis etnis , jika bukan berkat Pancasila sebagai jalan hidup yang disepakati hingga hari ini nasionalisme berbasis etnik akan menjadikan indonesia tinggal nama.
Tentunya dengan bangsa yang masih dalam proses ini , ideologi pembangunan yang merupakan kepanjangan tangan dari Neo- imprealisme dan Neo- kolonialisme hanya akan menjadi bom waktu bagi perpecahan indonesia , Karena itulah istilah – istilah sakti dalam periode pemerintahan Soekarno bukanlah konsep – konsep dari ideologi ” pembangunan ” , seumpamanya economic growth , gnp per kapita , investasi asing ,pinjaman luar negeri , sdgs , industrialisasi , deregulisasi , konglomerasi , dan sebangsanya yang sarat membuka ruang bagi penindasan manusia atas manusia secara masif , terstruktur ,dan sistematis.
Soekarno adalah anak zamannya , pemikirannya tidak terlepas dari kondisi zamannya namun tetap visioner bagi bangsa Indonesia hingga hari ini , bagi Soekarno formula yang tepat bagi Indonesia mencapai cita – citanya adalah Pancasila yang menjunjung tinggi sosialisme ala Indonesia , gotong royong , kekeluargaan, berdiri di atas kaki sendiri , dan seterusnya.
Melihat Indonesia hari ini , kita semakin jauh dari formula yang di cetuskan oleh bung besar .
Maka tidak salah jika Kita mungkin merdeka hanya secara seremonial namun tetap terjajah secara sistem namun kita sebagai generasi muda terus menerus memaklumi hal tersebut sebagai sebuah kewajaran dan menyusun alasan atas nama apapun hingga wajar akhirnya muncul sebuah statement “Indonesia for sale “.
Mansurni abadi
( world literacy foundation Singapura )