Optimisme Itu Menular, Lewat Laku Dan Ujar.

Optimisme Itu Menular, Lewat Laku Dan Ujar.

By : Faiz Zhatur R.

Ini tentang mereka: anak-anak muda Banyuwangi.

10 November 2018. Republik kita tercinta ini merayakan hari pahlawan pada tanggal itu. Langit Banyuwangi cerah, mengantarkan para anak-anak muda yang gairah dan semangatnya telah tertanam menjadi relawan berangkat menuju daerah terpencil dan desa yang jauh dari akses dan kenyamanan.

Sehari sebelum hari pahlawan, para relawan muda berangkat bersama-sama dan menyiapkan segala kebutuhan untuk mengajar dan berbagi pada adik-adik disana.

Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Tetapi kali ini ada yang berbeda. Ada anak-anak muda terbaik yang rela tak dibayar untuk mengunjungi anak-anak dipedalaman negeri ini. Ada anak-anak muda terpilih yang mau iuran tenaga, pikiran, serta materi dengan ketulusan yang murni. Karena kehadiran mereka adalah sebuah donasi. Sebuah kehormatan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Puluhan relawan yang turut ikut mendedikasikan diri ini memberi warna yang berbeda pada Republik ini. Sejak adanya gerakan “Inspirasi Sekolah Literasi” yang di gagas oleh Rumah Literasi Banyuwangi dan Rumah Literasi Indonesia dari tahun 2014, kita semakin percaya bahwa masih ada dan banyak anak-anak muda yang peduli. Peduli pada sekitar, peduli pada kampung halamannya, dan mencintai negerinya.

Selalu ada cerita-cerita baru ditiap tahunnya. Mereka, para relawan-relawan yang pernah ikut terus beganti dan memberi dampak pada apa yang telah dijejakkan. Meninggalkan jejak optimisme dan mengajarkan adik-adik untuk mencintai ilmu. Tebarkan kesabaran, tumbuhkan pengetahuan, dan tanamkan ketangguhan di dada anak-anak pelosok negeri.

Sehari mengajar, menginspirasi seumur hidup. Masih segar dalam ingatan, waktu melihat wajah sumringah adik-adik menyambut kedatangan para relawan, dengan suka cita mereka belajar dan mengenal ilmu-ilmu baru dari para relawan muda yang hadir. Dan masih ingat pula saat melihat wajah haru saat kami, para relawan hendak berpamitan pulang. Ada yang membekas tak kan hilang: ketulusan-ketulusan yang lahir dari hati para relawan.

Siang itu, kala upacara perpisahan digelar. Tak satupun yang tahan untuk tak menjatuhkan air mata haru. Di tanah itulah dinding-dinding sekolah menjadi saksi. Bahwa Indonesia patut bangga. Negeri ini akan menjadi lebih baik dan lebih maju lewat langkah dan tangan-tangan kecil mereka.

Comments

comments