Kak Maliki selaku koordinator penggerak relawan di yayasan RLI menjelaskan bahwa anak-anak di desa harus diberi ruang belajar dan bermain. Karena ini adalah hak anak yang sering kali diabaikan oleh masyarakat, termasuk kita sebagai orang dewasa. Untuk itu, relawan RLI mengapresiasi pemuda Bakungan yang memiliki niat yang kuat untuk menginisiasi rumah baca.
‘’Pemuda harus produktif dan memiliki ide dan gagasan yang kreatif. Karena anak-anak disekitar kita adalah generasi milenial. Semua informasi sangat terbuka dan banyak media pembelajaran yang bisa diakses melalui internet. Peran relawan sangat diperlukan sebagai pendamping belajar dan menciptakan ekosistem pendidikan yang baik. Termasuk pemuda harus mampu menjaga kearifan lokal’’ , ungkap Maliki relawan yang sedang giat mengasah kemampuan bermain peran dikelompok humor Roejag Ketjut.

Tidak hanya belajar bersama anak-anak. Para pengelola dari kelompok pemuda tersebut mengikuti kelas relawan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam mengelola taman baca agar memiliki metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Ada sekitar kurang lebih sepuluh pemuda yang mengikuti kelas ini. Mereka sangat antusias dan senang bisa berkolaborasi dengan para relawan literasi.
Ini adalah rumah baca/taman baca ke 52 yang bersinergi dengan Yayasan Rumah Literasi Indonesia. Para relawan akan terus mengkampanyekan budaya literasi agar minat dan daya baca masyarakat semakin meningkat. Semakin banyak elemen yang terlibat maka upaya dalam mendukung ketersedian akses buku-buku bacaan yang berkualitas akan lebih mudah, dan anak-anak dapat tumbuh dengan karakter yang berbudi dan berwawasan.