Kebutuhan anak terpenuhi, begitu juga mamaknya. Banyak hal yang harus dikuasai oleh penggerak literasi selain kemampuan untuk menggelar tikar dan buku bacaan. Kemampuan publik speaking Untuk mengajak orang tua dan anak. Kemampuan bersabar menghadapi anak. Kreativitas dalam bermain.
Banyak yang harus dipelajari dan perlu dikembangkan. Agar kita tak disebut “mamang penjual buku” dan tak ada lagi yang menawar buku kita.
Kadang suka heran sama pengelola baru yang menanyakan pada kami, “bukunya bagaimana?”, ” kami tak punya banyak buku untuk mendirikan rumah baca” . Banyak rumah baca mandiri yang berafiliasi di rumah literasi indonesia awalnya memiliki sedikit sekali buku. Tetapi, memiliki banyak gagasan dan mimpi. Justru yang lebih berjalan adalah rumah baca yang memiliki visi di awal. Karena visi itu lebih menggerakkan daripada sibuk menanyakan “bagaimana bukunya? “.
Sering kami mendengar pertanyaan seperti ini “saya ingin buka rumah baca, tapi bukunya masih sedikit, bagaimana kak? ” biasanya yang bertanya seperti ini niatnya hanya sebatas “keinginan”. Sampai dua tahun pun keinginannya masih sama. Sama halnya ditanyai apa resolusimu tahun ini? Jawabannya sama seperti resolusi tahun kemarin. Cuma sebatas “ingin”. Kita ambil contoh, rumah baca pos kamling atau rumah inspirasi, karena bergerak terus akhirnya telkom membantu pengadaan wifi dan komputer. Ini bukan soal fisik, tetapi soal cita cita.
Selalu semangat untuk penggerak literasi dimanapun kalian berada.
Salam literasi.
___________________________________________
Relawan di Rumah literasi Indonesia yang kebetulan menjadi Staff Desa di desa literasi ketapang.