Peringati Hari Pahlawan, Puluhan Relawan Sambangi SD Di Pelosok Yang Belum Punya Perpustakaan

“Saya tahu betul, anak-anak banyak yang mencintai dunia seni khsusunya seni tari. Mereka harus diberi ruang untuk dapat berekspresi dan mengasah kecerdasan uniknya, sehingga mereka bias ikut menjaga kearian lokal yang ada di Bumi Blambangan”, ungak Rizka yang masih menempuh pendidikan di Surabaya.

Tak hanya di ruang kelas, anak-anak juga diajak bermain di luar kelas melalui kegiatan permainan edukatif. Masing-masing kelompok menggunakan metode yang beragam, salah satunya menggunakan alat bantu permainan tradisional.

Malam harinya, relawan menyiapkan acara “Panggung Literasi”. Menampilkan karya anak-anak sekolah serta pertunjukan dari relawan literasi. Wali murid pun diundang untuk bias menyaksikan langsung karya anak mereka. Pertunjukan dimulai dengan nonton bareng film pendidikan karya kolabirasi Rumah Literasi Indonesia dengan beberapa komunitas, yaitu film “Jejak Kecil Kayla”. Film yang bertema tentang pendidikan inklusi menjadi pintu masuk untuk mengkampanyekan pentingnya menempuh pendidikan kepada orangtua murid.

Satu per satu anak-anak dengan penuh semangat menampilkan karya terbaiknya. Mulai dari paduan suara, tarian kolosal, drama, menyannyi dan puisi.

Aji Bahlewi, fotografer sekaligus videografer yang mengabadikan semua momen merasa senang dan bangga melihat karya anak-anak sekolah. Dengan keterbatasan yang ada mereka mampu membuat karya seni yang apik.

“Sebagai fotografer saya melihat kegiatan Panggung Literasi ini begitu megah. Meja yang disusun menjadi panggung, papan tulis yang disulap menjadi latar belakang serta lampu penerang minimalis justru terlihat artistik di malam harinya. Apalagi saat anak-anak berdiri dan mempersembahkan sesuatu untuk para guru, orangtua dan relawan”, ungkap Ajie.

Di hari terakhir, anak-anak dan relawan mengadakan kegiatan “Tadabur Alam”, menyusuri sungai dan perkebuanan di dekat sekolah. Selama perjalanan setiap kelompok diberikan tantangan untuk melakukan observasi sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia.

Pengalaman belajar selama 3 hari ini tentu memberikan kesan positif bagi anak-anak dan pihak sekolah. Sekolah bisa belajar tentang kekuatan utama pendidikan yaitu interaksi sesama manusia. Melalui program ISL, Kepala SDN 2 Kandangan berharap agar anak-anak bisa lebih memiliki warna terhadap cita-cita di masa depannya dan memastikan setiap kelas memiliki pojok baca untuk mendekatkan anak-anak dengan sumber belajar yaitu buku.

Scroll to Top