Refleksi, 3 Tahun Gerakan 1000 Rumah Baca

Refleksi, 3 Tahun Gerakan 1000 Rumah Baca

Prihatin rendahnya budaya literasi di Kabupaten Banyuwangi, sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas  Rumah Literasi Banyuwangi menginisiasi Gerakan 1000 Rumah Baca yang menyebar hingga ke pelosok desa. Setahun mengawali gerakan tersebut, Rumah Literasi Banyuwangi yang disingkat RLB didukung oleh relawan yang profesinya beragam. Mulai dari anak sekolah, kuliah, sarjana hingga doctor telah berhasil menginisiasi rumah baca dengan semangat kerja barengan sejumlah 30. Dan hingga akhir 2017 RLB telah menginisiasi 51 Rumah Baca.

 

Semangat kerja barengan ini di komunitas ini mampu tak hanya terasa di masyarakat sekitar rumah baca namun menular hingga ke sekolah-sekolah. Dimana para relawan sering kali diundang ke sekolah untuk bersinergi memberikan motivasi kepada pengelola perpustakaan juga kepada guru-guru tentang semangat berliterasi. Berangkat dari pengalaman, para relawan mampu membagikan ‘’Best Practice’’ tentang pengelolaan rumah baca/perpustakaan agar anak-anak memanfaatkan rumah baca/perpustakaan tak hanya tempat untuk menemukan buku-buku bacaan saja, tapi di dalamnya ada lingkaran diskusi, tempat menggali gagasan, menyalurkan karya yang kreatif, cerita budaya dan kearifan lokal serta ruang untuk apresiasi seni.

Beragam metode belajar yang seru bisa di dapatkan di komunitas RLB ini setelah relawan/pengelola rumah baca bersinergi dan berkomitmen untuk bersinergi dengan RLB. Karena rumah baca tak cukup hanya membuka fasilitas belajar dan penyediaan buku-buku saja, tapi perlu adanya semangat kerja bersama agar terciptanya ekosistem pendidikan yang baik. Setiap bulan para relawan selalu meng-Upgrade ilmu dengan pertemuan rutin bulanan dan 3 bulan sekali RLB menggelar Kelas Relawan sekaligus ada camp bagi relawan baru selama 3 hari dalam kegiatan ‘’Voluntery Capacity Building’’.

 

Bergarak 3 tahun menginisiasi 1000 Rumah Baca diperlukan usaha dan kerja keras, sebab mensupport 1 rumah baca saja perlu energi yang besar apalagi harus merangkul  sebanyak  51 Rumah Baca yang tersebar hingga ke pelosok. Itu sebabnya di komunitas ini prinsip kerja barengan menjadi pondasi yang mutlak. Kak Laili, salah satu inisiator muda yang membawa gagasan tentang literasi juga sebagai pengurus Yayasan Rumah Literasi Indonesia menjelaskan di usia komunitas yang masih terbilang sangat baru ini telah berhasil merangkul anak-anak muda yang memiliki kepedulian untuk berbagi dan belajar bersama di dunia pendidikan khusunya dalam kampanye literasi.

‘’Menjalin sinergi melalui Gerakan 1000 Rumah Baca dengan seluruh stake holder adalah tujuan di komunitas ini. Dan keberadaan RLB menjadi angin segar bagi dunia literasi di Kabupaten Banyuwangi, sebab keterbatasan akses buku bacaan yang berkualitas bagi anak-anak di pelosok bisa diasilitasi oleh keberadaan relawan. Inilah sebabnya rumah baca yang sudah diiniasiasi pantang untuk tutup alias kolaps. Dan komunitas RLB berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas para pengelola’’ , ungkap perempuan yang saat ini sedang hijrah menginisiasi gerakan literasi di Kutai Kertanegara.

 

Majunya sebuah daerah bisa dilihat dari bagaimana masyarakatnya bisa peduli dan pemudanya produktif dalam karya. Fokus pembangunan yang menjadikan manusia sebagai aset adalah hal yang mutlak harus dimiliki agar sebuah bangsa bisa maju dan sejahtera. Hal ini menjadi alasan kuat kenapa para relawan di RLB mengambil peran di Rumah Baca. Memulai perubahan sejak dini, dimana ada 3 hal prinsip di komunitas ini yang selalu menjadi pijakan dalam belajar yaitu Kampanye Budaya Literasi, Pendidikan Karakter dan Partisipasi Publik.

Menyadarkan masyarakat pentingnya budaya literasi memang persoalan panjang, apalagi di negara kita yang masih rendah minat bacanya. Keberadaan RLB melalui Gerakan 1000 Rumah Baca adalah wujud nyata bahwa masih banyak anak-anak muda yang peduli membangun ekosisten pendidikan yang lebih baik. Relawan yang hadir dari beragam profesi mampu memberikan ruang untuk tumbuhnya beragam mimpi anak-anak di rumah baca. Model belajar yang bisa memberi kesempatan kepada siapa saja untuk terlibat menjadi guru untuk pengembangan pendidikan karakter kepada anak-anak. Sebagai contoh, salah satu relawan RLB yangtinggal di Desa Bunder, Rogojampi sebut saja Kak Maliki. Dia berhasil mengembangkan beberapa rumah baca di desanya dengan merangkul tokoh masyarakat setempat dan pemuda karang taruna. Ada beragam aktivitas yang ia kembangakan di rumah baca, mulai dari permainan tradional, pengembangan spiritual, seni dan olahraga serta pelatihan relawan yang dikemas dalam program ‘’Voluntery School’’ melibatkan pengurus RLB yang selama ini banyak berperan sebagai mentor bagi relawan rumah baca.

‘’Bulan ini kami kembali mengajak beberapa relawan dari Desa Bunder untuk bersinergi dengan beberapa sekolah terutama untuk kampanye budaya literasi. Peran Rumah Baca sangat strategis karena banyak sekali relawan yang berpengalaman di bidangnya, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi bahkan seni dan budaya. Keberagaman ini menjadi kekuatan di komunitas RLB’’, ungkap Kak Maliki, laki-laki hitam manis yang juga mulai jatuh cinta pada dunia acting.

 

Di usia yang sangat muda ini, RLB akan terus mengkampanyekan Gerakan 1000 Rumah Baca ke berbagai daerah di luar Banyuwangi. Berkesempatan hadir sebagai pembicara di acara Temu Pendidik Nusantara 2017 yang digagas oleh Kampus Guru Cikal, Kak Tunggul Harwanto salah satu Founder Yayasan Rumah Literasi Indonesia mengangkat judul ‘’Membangun  Desa Melalui Gerakan 1000 Rumah Baca’’yang diikuti oleh pegiat literasi dan pendidik dari berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya setelah memaparkan bagimana geliat literasi komunitas RLB kepada peserta yang hadir, banyak dari mereka yang menindaklanjuti untuk menginisiasi Rumah Baca secara mandiri. Kak Tunggul, menceritakan pengalamannya bersama relawna RLB yang selama ini berangkat dari beragam profesi yang berbeda namun memiliki semangat membangun dunia pendidikan, uniknya para relawan RLB tak ada yang basic nya seorang pustakawan namun berhasil berbagi praktik baik dalam mengelola rumah baca.

 

Sudah saatnya setiap orang mengambil tanggung jawab untuk terlibat memperbiki ekkosistem pendidikan yang banyak sekali tidak membuat anak-anak merdeka dalam belajar. Sehingga fokus salah satunya dengan membantu para pengelola/relawan mengenali potensinya dan merdeka atas pilihannya. Dan hal yang paling penting mereka bahagia dalam menjalankan aktivitasnya.

Comments

comments

Leave a Reply

Close Menu