Rumah Lobster Ketapang, Upaya Bersama Bangkit Membangun Bangsa melalui Pemberdayaan Warga

“Untuk harga, lebih murah lobster air tawar daripada lobster air laut”. Jelasnya. Itulah mengapa Dian lebih memilih lobster air tawar. Selain mudah perawatannya, harganya pun tidak terlalu mahal.

Kolam Tandon tandon air bersih disulap menjadi Rumah Lobster

Kini ada 7 orang warga yang ikut membudidaya lobster air tawar. Keberhasilannya dalam mengajak warga tak berjalan mulus awalnya, Dian mengaku bahwa warga yang diajak orientasinya melulu tentang profit di awal.
Selain kendala di SDM, Dian menemui kendala teknis dalam budidaya. ” Kendalanya lamanya waktu panen untuk balik modal. Selain itu kendala teknis, mulai dari bentuk kolam, Ph Air, dll, sebenarnya perawatan lobster itu mudah tapi kalau tidak berhati hati ya bakalan banyak yang mati.” Jelas Dian.
Pembuktian komitmen dari 7 warga yang diajak itu, Dian membuat kesepakatan bersama.
“Jadi setelah melakukan edukasi, kami juga membuat kesepakatan bersama karena kelompok lobster ini mulai dari awal dari bibit yang prosesnya membutuhkan waktu tidak sebentar”. Jelas Dian.


Biaya operasional didapatkan dari menjual bibit, Indukan dan Lobster Konsumsi. “Kami jual dengan semua tipe itu . Untuk saat ini lebih banyak yang berminat ke konsumsi dan bibitan, namun penyedia lobster konsumsi masih terbatas, sehingga penjualan dalam bentuk konsumsi masih terhambat. Dan kebanyakan stock bibit lobster nya. Dan saya selalu mengarahkan para pembudidaya baru untuk mencoba budidaya lobster dari bibit, supaya merasakan proses budidaya sesungguhnya.” Imbuh Dian.
“Harapannya, lobster ini tidak hanya bermanfaat bagi saya saja tapi warga sekitar.” Tutup Dian

Scroll to Top