Street (1984) menyatakan bahwa literasi dapat membawa perubahan sosial karena literasi merupakan teknologi murni (neutral technology) yang diartikan sebagai hak (rights) dan kapabilitas (capabilities). Sebagai hak, literasi harus dimiliki oleh setiap individu dan mampu memberi manfaat pada individu tersebut. salenjutnya, karena memberi manfaat pada individu, maka literasi mampu meningkatkan kemampuan seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya dan skill yang dimiliki (kapabilitas). Manfaat yang dirasakan dari literasi tidak hanya diartikan sebagai manfaat ekonomi, tetapi juga manfaat budaya. Literasi dapat bermanfaat dalam budaya melalui nilai, sikap, dan gaya hidup yang diperoleh individu dalam keluarga. Nilai, sikap, dan budaya itulah yang kemudian mampu meningkatkan partisipasi individu dalam kehidupannya.
Selanjutnya Roucek (1967) mennyatakan bahwa literasi dapat mengambil peran dalam perubahan sosial melalui pendidikan. Pendidikan diasosiasikan dengan sekolah. Hal ini dikarenakan pendidikan identik dengan pembelajaran di sekolah yang kemudian menciptakan budaya masyarakat. Dalam perspektif ini, sekolah tidak hanya dipandang sebagai alat kebijakan orangtua terhadap anak tetapi alat masyarakat untuk mengenalkan budaya dengan mengajarkan mereka teknik-teknik literasi guna menyiapkan generasi selanjutnya. Selain pendidikan, Roucek (1967) juga menyebutkan bahwa perubahan sosial melalui literasi dapat dilakukan dengan komunikasi yang baik. Di era digital seperti saat ini, komunikasi banyak dilakukan melalui media elektronik walau tak meninggalkan media cetak. Roucek menyebutkan untuk melakukan perubahan sosial, kita harus mulai menaikkan level menjadi penulis. Karena dengan menulis seseorang dapat menginterpretasikan, mentranslate, memodifikasi dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
Perkembangan politik modern juga menjadikan literasi sebagai sarana perubahan. Awalnya masyarakat kelas rendah cenderung tidak memiliki kekuatan politik. Dengan adanya peningkatan kualitas literasi masyarakat terkait demokrasi partisipatif, maka mereka kemudian mendapatkan hanya secara politik. Dalam konteks Negara Indonesia, dewasa ini dengan melihat perkembangan isu sosial, politik, budaya dan ekonomi , maka literasi sangat diperlukan. Beberapa alasannya adalah 1) Pendidikan harus berbasis multi pihak, diperlukan kolaborasi masyarakat, sekolah dan keluarga, 2) rendahnya minat baca masyarakat, 3) pendidikan harus berbasis gerakan tak sekedar menjalankan program. Karena literasi merupakan pembelajaran sepanjang hayat. 4) krisis keteladanan, 5) literasi menjadi bagian dari pendidikan karakter.
Menuju Indonesia Berliterasi
Beberapa penulis telah banyak menghubungkan literasi dengan ekonomi, literasi dengan politik, serta literasi dengan perubahan sosial. Negara berkembang seperti Indonesia banyak mengalami kendala tentang kependudukan. Mulai dari pertumbuhan penduduk, kemiskinan, kriminalitas, dan kasus SARA. Kekuatan politik dan ekonomi yang telah diusahakan dengan pergantian kepala negara dan berbagai kebijakannya selama ini masih belum mampu merubah wajah negeri yang menyandang gelar gemah ripah loh jinawi ini. Mungkin benar, bahwa perubahan sosial harus dilakukan dengan literasi.
Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadikan Indonesia berliterasi:
- Memahami literasi sebagai hak dan kapabilitas setiap individu
- Refleksi diri dalam merubah budaya keluarga
- Melakukan pola komunikasi yang bagus guna menstimulus kesadaran masyarakat untuk berperan aktif
- Menjadikan “pendidikan” sebagai motor penggerak literasi
- Bergabung dan berjejaring dengan komunitas atau lembaga yang memiliki visi dan misi tentang literasi
- Menjadikan “Kerelawanan” sebagai puncak karir tertinggi
___________________________________________
Dosen, Pengelola Rumah Baca Arkara, dan relawan rumah literasi indonesia