Sekolah Tak Punya Perpus, RLB Undang Relawan Iuran Bareng di Program ISL

Sekolah Tak Punya Perpus, RLB Undang Relawan Iuran Bareng di Program ISL

Butuh waktu 3 jam untuk menempuh lokasi Sekolah Dasar Negeri 6 Sarongan dari pusat kota. Lokasi sekolah yang akan menjadi tujuan program Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) Jilid 4 di tahun 2017. Sebagai penggerak kegiatan, Rumah Literasi Banyuwangi mengundang semua profesional muda untuk terlibat kerja barengan di bidang pendidikan. Media sosial Facebook dan Instagram digunakan RLB karena banyak kelompok anak muda milenial hari ini menggunakan sosmed tersebut.

 

Ada beberapa jenis relawan yang bisa di pilih bagi para peserta ISL jilid 4. Diantaranya Relawan Inspirator, Relawan Fotografer, Relawan Videografer dan Relawan Fasilitator. Khusus untuk pilihan Relawan Inspirator, orang bisa memilih jika memiliki minimal pengalaman bekerja selama 2 tahun. Karena tugas Relawan Inspirator nantinya akan bercerita tentang profesinya kepada siswa di sekolah sehingga menambah motivasi dan wawasan terhadap profesi tersebut.

Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) ini adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap 1 tahun sekali. Namun hampir setiap bulan RLB sering kali datang ke sekolah untuk memotivasi geliat literasi bagi siswa dan guru-guru termasuk bagaimana mengelola perpustakaan agar menjadi tempat belajar yang seru dan memberi makna. Prinsipnya sekolah harus membuka ruang agar komunitas dapat terlibat untuk kerja barengan menumbuhkan budaya literasi di sekolah.

 

Koordinator Aksi ISL jilid 4, Kak Maliki menjelaskan bahwa agenda besar ini kita lakukan untuk memperingati hari pahlawan. Biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 November setiap tahunnya. Tapi melihat aktivitas komunitas ini yang menarik, banyak sekali sekolah yang ingin mengajak kerjasama untuk meningkatkan budaya literasi khususnya menumbuhkan mimpi siswa sejak kecil.

 

‘’Kami sudah melaksaksanakan kegiatan ini sejak tahun 2014 tanpa ada support dari siapapun, semua murni dari iuran bareng para relawan. Bahkan yang membuat saya bangga, ternyata banyak anak muda yang tidak kita kenal datang dari berbagai daerah ikut iuran materi, ide, tenaga dan waktu. Dan kami menemukan semangat pejuang ada di gerakan ini’’, ungkap Kak Maliki.

SDN 6 Sarongan yang letaknya tak jauh dari Pantai Rajegwesi terdapat 90 siswa, 1 Kepala Sekolah dibantu 3 guru dan ditambah 3 Relawan Banyuwangi Mengajar. Banyak pandangan negative yang berkembang terhadap sekolah ini di masyarakat. Mulain dari sarana dan prasarana yang minim, taka da akses internet, akses jalan yang rusak bahkan ironisnya sekolah ini tak memiliki perpustakaan. Begitu banyak masalah yang muncul. Namun, Ibu Susilowati selaku Kepala Sekolah ingin mengubah malasah tersbut menjadi tantangan, karena dia baru ditempatkan bertugas di sekolah tersebut belum genap 1 bulan.

 

‘’Saya ditempatkan di sekolah yang baru ini tetap bersyukur dengan kondisi sekolah yang masih dipandang sebelah mata. Tapi saya punya mimpi besar untuk memajukan sekolah ini. Caranya yaitu sekolah harus punya perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan agar anak-anak bisa belajar dan bermain disini. Tapi saya bingung mau kerjasama dengan siapa. Untunglah saya dikenalkan dengan komuinitas RLB, ternyata ada juga relawan di Banyuwangi yang mau terlibat di untuk meningkatkan budaya literasi’’, jelas Kepala Sekolah yang baru bertugas beberapa minggu.

Seminggu sebelum pelaksanaan ISL jilid 4 ini, tim survey lapangan berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi agar para relawan bisa membantu sekolah dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. salah satunya adalah mewujudkan perustakaan sekolah yang nyaman dengan beragam koleksi buku bacaan. Saat ini relawan juga mengumpulkan donasi buku dari berbagai pihak dengan harapan perpustakaan memilki buku bacaan yang berkualitas.

Comments

comments

Close Menu