‘’Kami sudah melaksaksanakan kegiatan ini sejak tahun 2014 tanpa ada support dari siapapun, semua murni dari iuran bareng para relawan. Bahkan yang membuat saya bangga, ternyata banyak anak muda yang tidak kita kenal datang dari berbagai daerah ikut iuran materi, ide, tenaga dan waktu. Dan kami menemukan semangat pejuang ada di gerakan ini’’, ungkap Kak Maliki.

SDN 6 Sarongan yang letaknya tak jauh dari Pantai Rajegwesi terdapat 90 siswa, 1 Kepala Sekolah dibantu 3 guru dan ditambah 3 Relawan Banyuwangi Mengajar. Banyak pandangan negative yang berkembang terhadap sekolah ini di masyarakat. Mulain dari sarana dan prasarana yang minim, taka da akses internet, akses jalan yang rusak bahkan ironisnya sekolah ini tak memiliki perpustakaan. Begitu banyak masalah yang muncul. Namun, Ibu Susilowati selaku Kepala Sekolah ingin mengubah malasah tersbut menjadi tantangan, karena dia baru ditempatkan bertugas di sekolah tersebut belum genap 1 bulan.
‘’Saya ditempatkan di sekolah yang baru ini tetap bersyukur dengan kondisi sekolah yang masih dipandang sebelah mata. Tapi saya punya mimpi besar untuk memajukan sekolah ini. Caranya yaitu sekolah harus punya perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan agar anak-anak bisa belajar dan bermain disini. Tapi saya bingung mau kerjasama dengan siapa. Untunglah saya dikenalkan dengan komuinitas RLB, ternyata ada juga relawan di Banyuwangi yang mau terlibat di untuk meningkatkan budaya literasi’’, jelas Kepala Sekolah yang baru bertugas beberapa minggu.

Seminggu sebelum pelaksanaan ISL jilid 4 ini, tim survey lapangan berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi agar para relawan bisa membantu sekolah dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. salah satunya adalah mewujudkan perustakaan sekolah yang nyaman dengan beragam koleksi buku bacaan. Saat ini relawan juga mengumpulkan donasi buku dari berbagai pihak dengan harapan perpustakaan memilki buku bacaan yang berkualitas.